Home / Franchise / Inilah Agung Nugroho Susanto, Raja Laundry Dari Jogja

Inilah Agung Nugroho Susanto, Raja Laundry Dari Jogja

Jika kita mengulas mengenai perkembangan bisnis laundry kiloan di Indonesia tak bisa lepas dari sosok yang satu ini. Dialah orang yang mengemas usaha laundry kiloan menjadi sebuah bisnis yang bergengsi, menjanjikan dan menginpirasi banyak orang. Laundry kiloan yang dulunya hanya sebuah usaha rumahan dengan konsep sederhana telah diubahnya menjadi usaha yang modern. Kiprahnya di bisnis laundry telah menjadi barometer urusan cuci-mencuci di seluruh Indonesia. Tabloid Laundry menemui di kantornya belum lama ini.

Dialah Agung Nugroho Susanto, 31 tahun. Pemilik Simply Fresh Laundry inilah yang pertama kali mengemas bisnis laundry kiloan menjadi bisnis dengan format franchise. Cerita berawal pada tahun 2006. Saat itu Agung memulai usaha laundry dengan hanya bermodalkan satu unit mesin cuci dan satu unit mesin pengering. Dibantu dua orang karyawan, Agung memulai usaha laundry dengan pengalaman yang nol. “Saya masih blank waktu itu. Yang saya tahu hanyalah mencuci dan menyeterika,” ujarnya mengenang

Usaha laundry bukanlah bisnis pertama yang ia tekuni. Sebagai mahasiswa perantauan, Agung sudah lebih dulu memutar otak untuk terjun di dunia bisnis dengan membuka konter handphone dan distro. Konter HP adalah bisnis paling moncer, pada masa itu.

Meski kuliah di fakultas hukum, tetapi naluri bisnisnya terus berkembang. “Saat itu laundry kiloan di sekitar saya sudah ada tetapi hanya dikelola secara rumahan. Lalu saya melihat peluang, kenapa laundry kiloan ini tidak dikemas dengan bagus, dikelola serius dan inovatif. Terus dengan modal yang pas-pasan saya sewa tempat dan mulai buka laundry kiloan dengan konsep yang berbeda,” katanya.

Untuk memberikan layanan yang spesial, Agung menawarkan beberapa keunggulan kepada pelanggannya, diantaranya adalah cuci kilat hanya empat jam dan tersedianya pilihan parfum hingga tujuh aroma. “Itu adalah terobosan pertama dan hanya Simply Fresh yang saat itu bisa,” ujarnya bangga. Selain itu, Agung juga tidak menerapkan minimal order, sehingga cucian berapapun ia terima. Hal itu lantas membuat para pelanggan menjadi senang.

Pada saat memulai usaha laundry, Agung mengaku sering kali trial and error. Bahkan Agung juga ikut terjun langsung menangani cucian. “Sepulang kuliah, saya ke outlet ikut mencuci dan menyeterika. Kalau malam cucian menumpuk saya cuci dan keringkan, supaya paginya bisa diseterika,” imbuhnya.

Usahanya bukan tanpa halangan. Kedua orangtuanya bahkan tak setuju ketika mendengar usahanya di bidang laundry. “Masak calon sarjana hukum jadi tukang cuci?” kata Agung menirukan ucapan Ayahnya, ketika itu.

Agung tetap bertekad mensukseskan usahanya, namun di sisi lain ia juga bersikap hormat pada kedua orang tuanya. Ketika orangtuanya mengarahkannya bekerja di Bank Indonesia, Agung menurut saja dan mengikuti prosesnya. Dalam setiap tahapan tes Agung selalu lolos dan nyaris menjadi staf penting di bank central itu.

Kebimbangan antara menjadi bankir atau menjadi pengusaha justru tampak pada sikap petugas yang mengetesnya. Dalam berbagai wawancara dengan petugas perekrut, Agung justru lebih sering berbicara tentang wirausaha. Namun, Agung tetap bertekad menjadi pengusaha. Padahal jika menerima pekerjaan itu, ia bisa bergaji belasan juta rupiah. Kepada orang tuanya, Agung juga berjanji jika dalam setahun usahanya tak sukses, ia mau menjadi apa saja.

Kerja keras Agung akhirnya berbuah manis. Kuliahnya selesai tepat waktu empat tahun dan bisnisnya mulai menggeliat. Sarjana Hukum dari Universitas Gajah Mada (UGM) itu mulai mengikuti pameran franchise di Jakarta. Bermodal pengalaman yang minim, Agung berangkat ke Jakarta untuk ikut pameran. Karena modal cekak juga, Agung harus rela berbagi stand pameran dengan temannya.

Saat mulai diperkenalkan, tak sedikit pengunjung pameran yang mengaku heran dengan konsep laundry kiloan. Pasalnya, hal tersebut adalah pertama kali dunia franchise diwarnai konsep waralaba laundry kiloan. Dengan berbekal pengalaman mengelola laundry kiloan beserta trial errornya, Agung berhasil meyakinkan investor dan deal tiga paket franchise.

Uniknya peminat pertama konsep franchise Simply Fresh justru dari kota Depok, Banda Aceh dan Timika. Itu adalah tiga outlet franchise pertama Simply Fresh. Dari situ Simply Fresh terus berkembang. Pada tahun pertama, gerai laundry dengan dominasi warna merah dan kuning itu berhasil menggaet 30 franchisee.

Berkat kegigihannya, Agung banyak diganjar penghargaan. Salah satunya adalah Penghargaan Wirausaha Muda Mandiri tahun 2009. Simply Fresh juga mendapatkan anugerah dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai Waralaba Laundry Kiloan Pertama di Indonesia. Tak hanya itu, Simply Fresh juga dianugerahi penghargaan dari MURI terkait teknologi water treatment yang diterapkan untuk air cucian. Air cucian yang dipakai Simply Fresh sudah ditreatment dengan ultraviolet sehingga bebas bakteri, bahkan bisa diminum. Secara keseluruhan, Agung Nugroho Susanto dan Simply Fresh mendapatkan 34 penghargaan.

Kini, gerai Simply Fresh bisa ditemui di 101 kota di Indonesia dengan total 280 gerai. Saat ditanya apa resep utamanya, pria yang kini juga mengembangkan bisnis pengelolaan guest house ini mengatakan, “Sederhana saja, untuk bisa unggul dalam sebuah bisnis yang penting kualitas. Baik kualitas produk maupun kualitas dalam layanan. Laundry juga demikian. Asal kualitas cucian baik serta didukung layanan yang optimal pasti omzet naik dan berkembang.”

Lebih lanjut Agung menambahkan, sebaik mungkin menjaga harga. Harga jual sangat menentukan kualitas layanan. Hindari banting-bantingan harga. Menurutnya, harga bukanlah satu-satunya penentu kesuksesan bisnis. “Bagaimana bisa berkembang dengan baik jika harga sudah rusak. Banyak pengusaha tidak berpikir mengenai anggaran pengembangan usaha, anggaran buka cabang apalagi penyusutan. Banyak yang jor-joran perang harga, ujung-ujungnya tidak bisa perpanjang kontrak tempat atau beli mesin baru,” imbuhnya.

Satu hal yang menurut Agung tak boleh d ilupakan adalah mengenai branding. Baginya hal itu sangat penting. Sebuah bisnis harus memiliki bendera dan bendera itu harus dikembangkan sebagai identitas yang kuat. [anto]

Ada komentar?

Baca Juga

Jangan lupa share :)

About Majalah Laundry

Majalah Laundry adalah media referensi usaha laundry. Terbit untuk Anda yang ingin menambah pengetahuan, wawasan dan tips serta trik dalam mengembangkan dan mengelola usaha laundry. Kami terus berupaya menghadirkan sesuatu yang baru ke hadapan Anda.

BACA JUGA

fajar mosta

Fajar Mosta: Jadi Pengusaha Jangan Gagal Fokus

MEA sudah datang, pengusaha Indonesia harus bersatu padu dan bahu membahu untuk saling membangun. Tidak ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares