Home / Serba-Serbi / Buat Apa Punya Mentor?

Buat Apa Punya Mentor?

Mentor

Buat apa punya mentor? Pertanyaan itu mungkin sedikit frontal. Tapi sejatinya itu akan menjadi kunci keberhasilan sebuah usaha. Usaha apa saja termasuk laundry. Untuk membahas mengenai pertanyaan pada judul di atas, saya akan mengulasnya berkenaan dengan bisnis laundry.

Ulasan ini sebetulnya terinspirasi dari obrolan santai saya dengan seorang pemilik gerai laundrymart di Surabaya pada saat acara buka bersama komunitas ASLI di Surabaya. Tepatnya, Hendri Triyono. Dia mengatakan, “sebagus apapun mentornya, itu nggak penting.” Lalu  hal tersebut saya garis bawahi dan saya kembangkan dalam bentuk artikel, untuk Anda.

Pada intinya, saya membenarkan ungkapan bahwa sebagus apapun dan siapapun mentornya, itu bukan jaminan bahwa usaha yang kita rintis bakalan sukses. Begitu juga bisnis laundry, siapapun yang menjadi mentor Anda, apapun yang dikatakannya, itu bukan serta merta menghantarkan Anda ke puncak kesuksesan.

Sering kali, seorang calon pengusaha yang akan membeli paket usaha laundry bertanya, “apakah jika membeli paket usaha laundry dari si mentor A akan dijamin sukses dan berapa lama akan sukses?” Hendri Triyono-pun kerap mendapatkan pertanyaan yang sama. Jawabannya? Hendri lebih sering menjawab, “saya bukan dewa dan saya bukan Tuhan. Saya tidak bisa memberi jaminan Bapak sukses dan kapan akan balik modal. Saya hanya pemandu yang akan mendampingi Bapak berbisnis laundry.”

Hal itu memanglah benar. Seorang mentor bukanlah dewa atau Tuhan yang bisa menyusun langkah sukses tepat waktu, tetapi hanyalah pemandu. Ibarat ingin mendaki gunung Merapi, seorang pemandu akan menunjukkan jalan. Dia paham mana jalan yang mudah, jalan yang nyaman, enak, cepat dan tahu di sebelah mana ada jurang, hambatan rintangan dan biasanya mentor mengerti larangan-larangan yang harus benar-benar dihindari oleh seorang pendaki, dalam hal ini pengusaha.

Nah, pada saat perjalanan menuju puncak tersebut masing-masing pendaki akan mengalami hal yang berbeda-beda yang berpengaruh pada tingkat akselerasinya. Bisa jadi si pendaki cepat lelah sehingga terlalu banyak mengeluh dan kerap berhenti. Sehingga durasi perjalanan semakin lama. Padahal, semakin lama perjalanan akan semakin banyak menghabiskan bekal, dalam hal ini cost atau biaya.

Saat hal ini terjadi, si mentor akan menghibur, menguatkan dan mengatakan, “saya mengalami hal ini jauh lebih sering dari Bapak. Saya punya cara agar hal ini bisa diatasi. Jika Bapak berhenti mengeluh dan mengikuti apa saran saya, saya yakin Bapak akan bangkit dan menjadi lebih ringan melangkah. Jadi, berhentilah mengeluh dan mari, saya bantu bangkit kembali.”

Bukan hanya faktor internal yang terjadi saat melakukan pendakian. Faktor eksternal juga bisa saja terjadi. Misal, cuaca buruk. Pendakian bisa saja tersendat karena cuaca buruk. Pendaki harus berhenti dan berkemah. Berkemah tentu mengeluarkan biaya. Selain itu juga ada upaya ekstra seperti mendirikan tenda dan membuat dapur. Dan yang pasti, durasi perjalanan menjadi bertambah lama.

Si mentor, karena pengalaman yang sudah cukup akan mengatakan, “saya pernah mengalami hal ini. Bahkan lebih buruk dari ini. Mari saya tunjukkan cara mendirikan tenda lebih kuat, cara membuat dapur dan memasak lebih hemat dan tahan lama. Jika tidak, tenda darurat Bapak akan terbawa angin atau tembus air hujan, tentu Bapak akan kebasahan dan kedinginan.” Seorang pengusaha yang dalam kondisi seperti ini butuh kekuatan, butuh strategi. Pada saat tersebut bisa jadi bisnisnya hanya menjadi cost centre bukan profit centre.

Bisnis laundry juga bukan berarti bebas gangguan eksternal. Banyak sekali gangguan yang datang sewaktu-waktu. Semisal pasokan elpiji tersendat, listrik sering padam, bagi yang tidak pakai mesin pengering, cuaca sering hujan siang malam sehingga penjemuran terganggu dan cucian lebih lama kering dsb.

Apapun bisa saja terjadi. Seorang pengusaha laundry yang tidak siap akan hal-hal seperti ini bisa saja stress dan menganggap bahwa bisnis laundry itu bisnis yang menyebalkan. Di sinilah naluri entrepreneur harus kuat. Kehadiran mentor sangat diperlukan.

Selain itu, dengan adanya mentor juga akan mengarahkan kita jika sewaktu-waktu kita melakukan kesalahan. Seorang pengusaha mungkin sedang mencari jalan pintas demi memangkas biaya, namun dengan konsekwensi menurunkan nilai kualitas. Itu adalah hal yang sangat bodoh. Strategi bisnis yang mempertaruhkan bahkan mengorbankan kepuasan pelanggan adalah strategi paling buruk dalam pengembangan sebuah usaha.

Pada saat hal itu dilakukan tanpa adanya bimbingan dari mentor, mungkin hal itu bisa saja benar-benar terjadi. Pengusaha terkadang fokus pada efisiensi, bukan kepuasan pelanggan. Mindset ini kerap muncul di sekitar kita. Pengusaha mungkin berpikir itu adalah strategi yang bagus. Brillian. Cemerlang.

Padahal itu adalah sangat buruk. Nah, mentor diperlukan untuk menjadi pengontrol akan hal-hal seperti ini. Jika tidak, pengusaha akan berbelok dan arahnya melenceng dari tujuan. Sedikit saja melenceng itu dibiarkan dan berkelanjutan, titik temunya dengan puncak kesuksesan akan sangat jauh.

Mentor memang tidak selalu akurat dan lurus dalam mengarahkan langkah si pengusaha. Tetapi dia punya straight line. Melenceng, tentu saja bisa terjadi tetapi si mentor akan segera mengingatkan untuk kembali ke “jalan yang benar” agar arah bisnis tidak jauh dari tujuan.

Ada kalanya mentor juga melakukan hal yang berpotensi “menjerumuskan”, tetapi itu merupakan strategi.  Bisnis juga akan “gitu-gitu” saja jika tanpa sebuah gebrakan. Nah, gebrakan itulah yang kadang menjadi frontal dan kontraproduktif. Tapi, gebrakan dalam sebuah bisnis tentu saja punya tujuan peningkatan volume omzet atau peningkatan brand awareness pelanggan.

Kehadiran mentor memang diperlukan. Mentor bisa dari siapa saja. Bahkan adanya “ghost mentor” juga mungkin terjadi. Misal Anda berguru pada orang yang orang tersebut tidak mengetahui bahwa Anda sedang berguru kepadanya. Ghost mentor biasanya akan dianut oleh pengusaha dari strategi-strategi dan cara-caranya yang berpotensi meningkatkan omset.

Mentor juga bisa saja seorang teman, sekedar sharing. Bisa juga benar-benar mentor yang Anda hire untuk mendampingi bisnis Anda hingga bisnis tersebut dapat melenggang mengumpulkan profit.

Tapi semuanya akan sia-sia dan nol besar jika dalam diri kita tidak patuh pada aturan yang ada. Tidak ada bisnis sukses yang dibangun secara instan. Seseorang menjadi mentor biasanya sudah lebih dulu jatuh bangun dan bersusah payah membangun bisnisnya sehingga dia hapal betul mana jalan yang salah, mana jalan yang pernah membuatnya jatuh dan mana jalan yang seharusnya dia tempuh.

Tapi  sekali lagi, sebagus apapun mentornya, akan sia-sia jika kita mengabaikan aturan yang ada. Ingat, bisnis itu sebetulnya mudah, tapi kita kerap melanggar aturan dan itu membuat bisnis kita menjadi sulit. Buat apa punya mentor kalau masih suka melanggar TOS?

Penulis: Anto Wiyono

Ada komentar?

Baca Juga

Jangan lupa share :)

About Majalah Laundry

Majalah Laundry adalah media referensi usaha laundry. Terbit untuk Anda yang ingin menambah pengetahuan, wawasan dan tips serta trik dalam mengembangkan dan mengelola usaha laundry. Kami terus berupaya menghadirkan sesuatu yang baru ke hadapan Anda.

BACA JUGA

kirana laundry

Buka Cabang Sebaiknya Pakai Brand Yang Sama Atau Brand Baru?

Ketika usaha laundry sudah mulai berjalan dan sudah mendapatkan pelanggan yang fix, tentu tak ada ...

shares