Home / KIsah / Ini Kisah Rosmalinda, Pemilik Laundry yang Dipenjara Satu Tahun Gara-gara Cucian

Ini Kisah Rosmalinda, Pemilik Laundry yang Dipenjara Satu Tahun Gara-gara Cucian

Kasus ini sepertinya dapat dijadikan pelajaran bagi para pengusaha laundry. Sebelum terjadi kesalahpahaman dengan pelanggan, beberapa hal diperlukan kesepakatan di awal sebelum pelanggan memasukkan pakaiannya untuk dilaundry.

Jika tidak, kasus Rosmalinda ini dapat terjadi pada siapa saja. Kasus Rosmalinda ini membuatnya dihukum penjara selama satu tahun. Bagaimana kisah selengkapnya?

Kasus bermula saat seorang pelanggan bernama Rose Lenny menaruh cucian di laundry kiloan yang dikelola Rosmalinda pada 26 Januari 2012. Rose membawa baju kotor seberat 26 kg ke rumah Rosmalinda di Bidara Cina, Jatinegara.

Setelah ditimbang, biaya cucinya Rp 78 ribu. Kesepakatannya, pembayaran akan dilakukan saat cucian sudah selesai dan diantar ke rumah Rose.

Setelah baju selesai dicuci dan disetrika licin, Rosmalinda mengantarkan baju itu ke rumah Rose. Tapi ternyata, alamat yang diberikan Rose salah. Rosmalinda lalu menelepon nomor HP Rose, tetapi tidak aktif.

Tak hanya itu, Rosmalinda berupaya mencari Rose dengan bertanya kepada tetangga-tetangga di alamat yang diberikan Rose. Tetapi semua tetangga di alamat itu mengaku tidak ada yang tahu siapa gerangan Rose. Tak ada yang mengenali Rose Lenny.

Rosmalinda pun putus asa. Baju licin yang dibungkus plastik itu lalu ia taruh di rak baju, bercampur dengan plastik baju lain yang siap ambil.

Waktu berlalu, Rose tak kunjung tampak batang hidungnya. Enam purnama lamanya Rosmalinda menunggu Rose, tapi ia tak kunjung datang. Akhirnya, plastik berisi baju Rose itu ditaruh di gudang.

Karena tidak kunjung diambil, baju itu akhirnya bau dan rusak. Setelah satu tahun berlalu, Rose tiba-tiba muncul dan menanyakan baju yang di-laundry ke Rosmalinda.

Rosmalinda tak menyangka karena sudah satu tahun lamanya cucian itu tidak diambil. Rosmalinda lalu memberikan plastik berisi baju-baju Rose dengan kondisi apa adanya.

Rose marah dan mempolisikan Rosmalinda. Rose mengaku mengalami kerugian senilai Rp 10 juta. Kasus itu kemudian bergulir ke pengadilan. Perempuan kelahiran 20 Mei 1982 tersebut akhirnya harus duduk di kursi pesakitan.

Jaksa sebagai pengacara korban mengajukan sejumlah dakwaan kepada terdakwa. Jaksa menuduh Rosmalinda melakukan kejahatan pidana Pasal 372 dan Pasal 374 KUHP tentang Penggelapan. Dalam tuntutannya, jaksa meminta Rosmalinda dipenjara selama 1 tahun.

Atas tuntutan ini, Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) menilai sebaliknya. Majelis hakim menilai perbuatan Rosmalinda memang benar adanya, tetapi perbuatan itu bukanlah perbuatan kejahatan. Pada 7 Oktober 2013, PN Jaktim akhirnya melepaskan Rosmalinda.

Atas putusan itu, jaksa tak terima dan ngotot agar Rosmalinda dihukum 1 tahun penjara. Berkas kasasi pun dilayangkan dengan tuntutan sama: Rosmalinda harus dipenjara 1 tahun! Tapi apa kata MA?

“Menolak permohonan kasasi dari penuntut umum pada Kejaksaan Negeri Jakarta Timur (Kejari Jaktim),” demikian dilansir panitera MA, Kamis (13/4/2017).

Duduk sebagai ketua majelis, hakim agung Dr Andi Abu Ayyub Saleh, dengan anggota hakim agung Eddy Army- Sumardjiatmo. Majelis kasasi sependapat dengan pertimbangan PN Jaktim yang menyatakan kasus itu bukanlah kasus kejahatan pidana.

“Perbuatan terdakwa tidak memenuhi unsur tindak pidana, baik Pasal 374 KUHP maupun Pasal 372 KUHP,” ucap majelis pada November 2016.

Sumber: detikcom

Ada komentar?

Baca Juga

Jangan lupa share :)

About Majalah Laundry

Majalah Laundry adalah media referensi usaha laundry. Terbit untuk Anda yang ingin menambah pengetahuan, wawasan dan tips serta trik dalam mengembangkan dan mengelola usaha laundry. Kami terus berupaya menghadirkan sesuatu yang baru ke hadapan Anda.
shares