Home / Franchise / Inilah Pencetus Laundry Kiloan Pertama di Indonesia

Inilah Pencetus Laundry Kiloan Pertama di Indonesia

aditya trituranta

Berbicara mengenai sejarah laundry kiloan di Indonesia, pasti tak akan lepas dari kota pelajar Jogjakarta. Dari kota yang dipadati kos-kosan itulah laundry kiloan pertama kali muncul dan hingga kini menjadi sebuah bisnis yang menjanjikan.

Demi menelusuri jejak-jejak perjuangan para pengusaha laundry kiloan, kami datang langsung ke Jogjakarta untuk menemui orang-orang yang terlibat dalam sejarah asal muasal bisnis laundry kiloan di kota gudeg itu

Dari cerita beberapa orang yang kami temui, mereka kompak menyebut sebuah nama. Nama itulah yang paling sering disebut jika mencari pelaku sejarah laundry kiloan di Jogjakarta. Dialah Aditya Trituranta. Seorang pengusaha yang memiliki catatan tersendiri mengenai pertama kali konsep laundry kiloan diterapkan.

Kamipun menelusuri dan berhasil menghubungi Aditya. Iapun mulai bercerita. Berawal dari tahun 2002, Aditya membuka usaha laundry di Yogyakarta. Ia sengaja menamai usahanya itu dengan unsur lokal. ”Namanya House of Laundry Benresik, itu usaha pertama saya di Yogyakarta,” kata Aditya menjawab pertanyaan Majalah Laundry. Benresik dalam bahasa Jawa ditulis ben resik berarti supaya bersih.

aditya trituranta
aditya trituranta

Ide membuka usaha laundry tersebut muncul dari pengalamannya bepergian ke berbagai daerah bahkan keluar negeri. Pasalnya, Aditya memang saat itu bekerja sebagai flight attendant atau pramugara di perusahaan penerbangan. Saat sedang berada di luar negeri, ia sering mengamati konsep laundry yang ada di sana. Lalu ia berani meninvestasikan uangnya di bisnis laundry.

Usaha tersebut diliriknya karena melihat pangsa pasar yang kebanyakan mahasiswa. Kebetulan lokasi laundry Benresik itu tak jauh dari kampus Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta. Pelanggannya, ya, para mahasiswa UPN itu. Ia tahu persis gaya hidup seorang mahasiswa. Gaya hidup yang ia juga pernah alami tersebut menginspirasi segmen bisnis yang ia bangun.

Kenapa pakai kiloan? “Ya karena mesin cuci itu hampir semua kapasitasnya menggunakan hitungan kilo, bukan perpotong. Jadi saya menerapkan sistem kiloan menyesuaikan hitungan kapasitas mesin cuci,” kata Adit.

Awal mula ia menggunakan sistem hitungan kiloan, para mahasiswa yang menjadi pelanggannya pada kebingungan. Pada saat itu semua laundry menggunakan hitungan bijian. Sehingga mereka belum terbiasa dengan sistem timbangan.

Bukan hanya itu, karena Adit menggunakan sistem minimal order 5 kilogram sekali cuci, mahasiswa kembali bingung. “Soalnya kalau pakaian mereka dicuci sampai sejumlah lima kilo, bisa-bisa mereka tidak pakai baju. Karena pakaian mereka kan terbatas,” kata Adit mengenang. Lambat laun, Adit berhasil memberikan edukasi dan memperkenalkan konsep laundry kiloan.

Setelah setahun membuka usaha di Yogyakarta, Aditya mulai menjajaki kota lain untuk melebarkan sayap bisnis. Ia pun membuka gerai laundry di kawasan BSD City Kota Tangerang Selatan.

Usahanya yang baru tersebut ia beri nama House of Laundry Easy Clean. Segmen pasarnya dibuat lain dari segmen pasar Benresik yang muali dikelola oleh adiknya. ”Kalau yang di Yogyakarta segmennya mahasiswa. Nah, yang di BSD City ini segmennya para keluarga dan eksekutif muda,” ujarnya.

easyclean laundry

Aditya mengakui, awalnya ia ragu dalam menetapkan pasar kalangan muda usia. Lagipula lokasi Easy Clean di BSD City berada di sekitar permukiman kelas menengah ke atas di mana keluarga di situ umumnya memiliki pembantu atau mesin cuci. Keraguan itu terbantahkan setelah ia menjalani semua rintangan dalam berbisnis binatu. Kini sudah ada ribuan pelanggan yang menggunakan jasa Easy Clean. ”Saya selalu perhatikan tiga hal dalam usaha saya, yaitu kualitas SDM (sumber daya manusia), SOP (standard operating procedure), dan instrumen,” katanya.

Di antara ketiga faktor itu, faktor sumber daya manusia merupakan faktor terpenting. ”Percuma juga kalau instrumen bagus, tapi SDM-nya kurang berkualitas, hasilnya pun kurang,” katanya menceritakan kunci keberhasilan rumah penatu Easy Clean. Karena faktor inilah, Aditya tidak takut bersaing dengan bisnis laundry lain di kawasannya.

Gebrakan Aditya di kawasan tersebut juga cukup fenomenal, pasalnya laundry kiloan di wilayah itu juga belum dikenal sehingga terkesan menabrak pakem dimana laundry biasanya dihitung perpotong. Konsep baru ini diklaimnya sebagai pelopor dalam bisnis bersih-bersih pakaian. ”Saya bilang pionir karena konsep kami laundry kiloan, kalau biasanya kan laundry per potong. Itulah keunikan kami,” tuturnya.




———–

Sebelum membuka laundry dengan konsep kiloan, awalnya Adit ingin membuka laundromat atau laundry coin dengan system self service. Namun hal itu ia urungkan mengingat budaya masayarakat Indonesia yang masih suka dilayani.

Adit juga menyebut alasan lain yakni mengenai mesin. Dengan konsepg self service, potensi mesin cepat rusak lebih tinggi karena mesin akan dioperasikan oleh banyak orang secara bergantian. Selain itu, menurut Adit upah pekerja di Indonesia masih murah sehingga ia bisa memanfaatkan hal tersebut untuk membuka jasa laundry dengan konsep kiloan.

Saat itu, di Jogjakarta tarif laundry perkilo Rp. 3000,-. Harga itulah yang diterapkan oleh Aditya pertama kali.

Adit masih ingat ketika pertama kali membuka outlet. “Waktu itu di Jogjakarta sempat heboh, terutama mahasiswa sekitar outlet saya, soalnya mereka kaget melihat laundry yang mesin cuci dan setrikanya terlihat dari luar,” ujarnya mengingat. Kini setelah tiga belas tahun kemudian, konsep laundry kebanyakan memperlihatkan mesin cuci, mesin pengering atau meja bagian setrika.

Meski membuka usaha tanpa melepaskan identitas sebagai karyawan, Adit berhasil menerapkan konsep dan standart operasional yang matang, sehingga tak perlu ditunggui usaha laundry tetap berjalan. Bahkan kini ia memiliki delapan outlet dengan dua brand miliknya. Setelah pensiun dari Garuda Indonesia tahun 2011 lalu, Aditya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berbagai  kegiatan sosial termasuk mengisi seminar bagi para pilot dan pramugari-pramugara yang akan pensiun. [anto]

Ada komentar?

Baca Juga

Jangan lupa share :)

About Majalah Laundry

Majalah Laundry adalah media referensi usaha laundry. Terbit untuk Anda yang ingin menambah pengetahuan, wawasan dan tips serta trik dalam mengembangkan dan mengelola usaha laundry. Kami terus berupaya menghadirkan sesuatu yang baru ke hadapan Anda.

BACA JUGA

workshop soekaer laundry sepatu

Manjakan Pelanggan, Arief Fatoni Vibrasikan Barbershop Dengan Cuci Sepatu

Jeli melihat peluang, pandai memanfaatkan momentum. Itulah gambaran sekilas sosok Muhammad Arief Fatoni, pemilik merek ...

shares