Home / Strategi / Jangan Bangga Banting Harga

Jangan Bangga Banting Harga

Beberapa bulan lalu saya melakukan perjalanan ke beberapa kota seperti Blitar, Kediri, Madiun, Jogjakarta dan Solo. Perjalanan tersebut memakan waktu beberapa hari dan saya bertemu banyak sekali orang. Dari pertemuan saya dengan orang-orang yang berkecimpung di bisnis laundry tersebut semuanya sepakat untuk menjaga harga dan menghindari persaingan dengan menggunakan banting harga sebagai senjata utamanya.

Statement yang dilontarkan teman-teman pengusaha laundry tersebut semakin menguatkan persepsi saya bahwa bersaing bisnis laundry tidak serta-merta harus menggunakan strategi banting harga. Justru jika seseorang menggunakan harga sebagai senjata, dia akan mematikan bisnisnya sendiri. Kok bisa? Ya, sangat bisa.

Untuk itulah bersama ini saya ingin sekali menekankan kepada teman-teman pengusaha laundry untuk menjaga harga jual dan membuatnya nyaman senyaman-nyamannya. Meskipun boleh saja seseorang menjual jasanya dengan sesuka hati dalam menentukan harga. Setiap orang juga punya parameter sendiri dalam menentukan harga jual jasanya.Tetapi bukan berarti mereka memiliki sedikit parameter lalu bisa “merusak” harga pasar.

Di beberapa sudut kota Jogjakarta saya melihat ada laundry dengan harga jual Rp. 2000,-/kg bahkan hanya Rp. 1900,-/kg. Sebagian miris melihat kondisi seperti ini, lalu mereka bertanya? Berapa untuk membayar listrik? Berapa untuk membayar air? Berapa untuk membayar tenaga? Berapa untuk membeli chemical? Dan lain-lain.

mencuci di rumah

Mereka punya parameter yang minimal. Misal, tidak harus menyewa ruko karena mereka membuka workshop di rumah sendiri. Tidak harus membayar karyawan karena cukup ditangani sendiri. Tidak perlu satu pelanggan satu mesin, muatan mesin cuci dipenuhi dengan cucian campur beberapa pelanggan. Mereka juga tidak perlu membeli gas elpiji untuk pengering karena mereka hanya menjemurnya dengan sinar matahari.

Tapi mereka lupa bahwa parameter yang digunakan untuk menentukan harga semestinya juga memuat parameter yang bertujuan ke depan. Artinya, harga jual yang diterapkan haruslah dapat menjawab kebutuhan ke depan mengenai kelanggengan bisnis. Misal, mesin cuci pasti memiliki life time terbatas. Dia mengalami penyusutan nilai. Jika tidak diimbangi dengan anggaran penyusutan, maka suatu ketika tidak akan terbeli lagi mesin cuci yang baru.

Belum lagi jika usaha laundry dikerjakan sendiri, praktis si pemilik tidak bisa bebas bepergian, kurang istirahat, tidak banyak waktu bertemu saudara, tetangga atau bersosialisasi. Kondisi seperti ini kerap menimbulkan masalah kesehatan. Dan jika bertahan dengan seperti itu, maka nyaris tidak ada anggaran untuk membuka cabang, menaikkan kelas layanan dan jangan-jangan hanya cukup untuk makan. Masih beruntung jika laundrynya bertahan sampai dua tahun lebih. Kebanyakan hanya bertahan setahun karena pemasukan tidak seimbang dengan tenaga yang dikeluarkan. Ini terbukti.

Di era modern seperti ini persaingan bisnis tidak hanya bertumpu pada harga. Justru, perusahaan-perusahaan kelas kakap terus berkembang dan melebarkan sayap karena mereka terus meningkatkan kualitas layanan meski harus menjual dengan harga mahal.

laundry kiloan murah

Bukan hanya untuk membayar penyusutan, dengan mematok harga tinggi, perusahaan memiliki peluang dan modal untuk berkembang seperti membuka cabang, manambah value added service, mengadakan training, gathering karyawan, CSR serta membuat program-program yang berguna untuk meningkatkan mutu produk dan kualitas layanan.

Untuk bisa meningkatkan service level itu diperlukan biaya. Saya mengambil contoh layanan provider telekomunikasi Telkomsel, banyak yang mengeluh layanan Telkomsel terlalu mahal. Namun manajemen Telkomsel memiliki cara tersendiri dalam merebut pasar telco. Mereka terus berinovasi dan mengupayakan layanan paling prima dan terdepan dalam telekomunikasi seluler, dan itu semuanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Dari pengembangan teknologi yang dilakukan oleh Telkomsel, mereka berhasil menyediakan layanan yang paling unggul di antara sekian layanan telekomunikasi seluler di Indonesia. Telkomsel belum pernah turun peringkat sebagai layanan seluler terbesar dan terluas. Pada saat seperti itulah, para pelanggan membutuhkan, Akhirnya terjawab sudah bahwa tarif yang dikenakan oleh Telkomsel merupakan komponen untuk meningkatkan layanan.

Hukum sebab akibat kemudian berlaku. Layanan bagus dengan harga yang pantas. Tarif yang mahal memang dibutuhkan untuk peningkatan kualitas. Dalam usaha laundry juga demikian, tidak bisa dibantah bahwa untuk meningkatkan kualitas layanan laundry serta berekspansi itu membutuhkan biaya. Tarif yang rendah disertai layanan yang buruk tentu akan ditinggal pelanggan. Tarif murah dengan layanan yang prima sudah barang tentu terjadi defisit pada keuangan perusahaan.

Mereka yang berkutat dengan cara banting harga, biasanya memiliki grafik pertumbuhan yang sangat lambat. Alih-alih mengadakan program CSR, untuk memberi upah tambahan saja mereka ngos-ngosan. Hal itu kemudian berlanjut pada kualitas produk yang jelek. Mereka juga tidak berfikir mengenai penyusutan aset dsb. Kualitas layanan semakin jelek, pelanggan terus menurun, ujung-ujungnya gulung tikar. Ini hukum alam yang tidak bisa dibantah.

Dedy Kushendratno dari FR3SH Laundry bahkan menyebutkan, para pemilik laundry yang bekerja dengan harga jual minim itu bukan lagi termasuk entrepreneur tetapi hanya sekedar mencari nafkah karena esensi pekerjaan yang mereka lakukan hanyalah sekedar bertahan hidup. Tidak seperti naluri seorang entrepreneur. Padahal menurut dia, seharusnya justru para pengusaha laundry sudah memikirkan bagaimana agar usahanya bisa autopilot. Dengan sistem yang dibakukan membentuk SOP, seorang pengusaha laundry bisa mendelegasikan pekerjaan kepada karyawan sementara owner bertugas mengatur strategi untuk pengembangan.

Pengusaha laundry sudah tidak semestinya bergelut dengan hal-hal dasar dan teknis, mereka sudah harus berpikir membakukan budaya kerja menjadi sistem yang berstandar. Ini adalah syarat mendasar untuk bisa membuka cabang.

Jadi mulai sekarang, jangan lagi berpikir promo dengan mindset banting harga. Jangan main-main dengan harga. Bermain harga boleh, tetapi hanyalah sebagi bahan gimmick saat mengadakan promo insidentil seperti momen Agustusan, Tahun Baru atau Lebaran. Yang justru lebih penting adalah berikan layanan tambahan, peningkatan mutu serta quality control yang baik agar laundry Anda tidak termasuk calon laundry yang gulung tikar. Naudzubillah!

Penulis: Anto Wiyono

 

Ada komentar?

Baca Juga

Jangan lupa share :)

About Majalah Laundry

Majalah Laundry adalah media referensi usaha laundry. Terbit untuk Anda yang ingin menambah pengetahuan, wawasan dan tips serta trik dalam mengembangkan dan mengelola usaha laundry. Kami terus berupaya menghadirkan sesuatu yang baru ke hadapan Anda.

BACA JUGA

kirana laundry

Buka Cabang Sebaiknya Pakai Brand Yang Sama Atau Brand Baru?

Ketika usaha laundry sudah mulai berjalan dan sudah mendapatkan pelanggan yang fix, tentu tak ada ...

shares