Home / Uncategorized / Jogjakarta Kota 1001 Laundry

Jogjakarta Kota 1001 Laundry

Pola hidup peradaban manusia terus berkembang. Berbagai macam perubahan gaya hidup dan evolusi teknologi terus menerus muncul. Pola pikir manusia serta segala kebutuhannya setiap hari membuat cara hidup juga mengalami evolusi. Pada jaman dahulu, semua orang melayani dirinya sendiri dengan cara yang sederhana. Kini semua berubah, salah satunya adalah cara manusia modern menyediakan baju bersih untuk dirinya.

Dulu, bagi yang mampu akan memiliki pembantu di rumah, sedangkan yang tidak sanggup membayar pembantu, semua dilakukan sendiri. Namun, kini sebagian pekerjaan pembantu mulai di-substitusi-kan. Salah satunya adalah tugas mencuci pakaian.

Sekarang, meski tidak memiliki pembantu, hampir semua orang yang hidup di peradaban modern akan bisa memiliki pakaian yang selalu bersih tersedia, dengan layanan laundry. Jumlah upah yang dikeluarkan disesuaikan dengan jumlah atau volume cucian yang dikerjakan. Berbeda dengan pembantu yang mendapatkan gaji pokok untuk pekerjaan yang volumenya tidak selalu sama.

 

Adalah kota Jogjakarta, kota pelajar dengan segala keunikannya, yang merupakan basis pertumbuhan industri laundry di Indonesia. Di kota ini, Anda akan menemukan jumlah outlet laundry jauh lebih banyak ketimbang jumlah konter HP pada masa kejayaannya. Bedanya, konter HP kini mulai berkurang drastis akibat mudahnya teknologi pengisian pulsa dan adanya mall-mall yang menjual aneka perangkat dan perabotan seputar telepon genggam.

Laundry diyakini tidak akan memiliki nasib yang sama, karena sebagus apapun teknologinya, tetap saja laundry adalah pekerjaan fisik yang tidak bisa dikerjakan dengan teknologi digital atau virtual. Potensi pasar itulah yang kemudian mendorong begitu banyak orang untuk membuka usaha laundry.

Dengan modal yang relatif terjangkau, terutama untuk laundry rumahan, para pengusaha laundry saling berebut pasar mulai dari kos-kosan, rumah tangga hingga industri. Namun kemudian yang terjadi, pola perniagaan di industri laundry tersebut kurang sehat.

Demi memperebutkan pasar, banyak pengusaha laundry yang memberikan solusi banting harga. Mereka mencoba merebut hati pelanggan dengan cara memberikan harga yang murah bahkan sangat murah. Di sebuah tempat di Taman Martani, Sleman, Jogjakarta kami melihat ada sebuah outlet dengan harga yang dipajang di plang papan nama Rp. 1.900,-. Sungguh harga yang sangat murah.

Kami sempat bertemu dengan komunitas pengusaha laundry yang berkumpul dirumah salah seorang anggota mereka, Wawan Sumarwan pemilik Cahaya Laundry di kawasan Jalan Kaliurang. Dari pembicaran yang kami tangkap, mereka sangat menyayangkan adanya segelintir pengusaha laundy  yang menerapkan harga sangat murah.

Menurut mereka, menjual jasa laundry dengan harga yang terlalu murah bukanlah solusi dalam berbisnis. Dengan harga yang terlalu murah, pengusaha akan mendapatkan margin yang terlalu tipis. Hal itu kemudian akan mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk berkembang seperti membeli mesin baru, mengadakan training dan liburan karyawan bahkan untuk membuka cabang.

Namun mereka tidak bisa berbuat banyak dengan kondisi tersebut. Jumlah pelaku usaha laundry yang terlalu banyak juga menjadi kendala karena tidak semua dari mereka tergabung dalam asosiasi atau himpunan para usahawan bidang laundry.

Dengan adanya asosiasi yang menaungi mereka, diharapkan akan ada edukasi yang memadai sehingga setiap pelaku usaha laundry dapat terkontrol dan memiliki jiwa entreprenuership yang kuat.

Meski begitu, di sisi lain pertumbuhan bisnis laundry di Jogjakarta juga bisa dijadikan barometer waralaba laundry. Sebut saja Simply Fresh, Fresh Group Laundry, Super Wash, Laundry Zone, Melia Laundry dll. Mereka terus berkembang dan membuktikan bahwa usaha laundry dengan manajemen yang memadai akan meningkatkan awareness sehingga perusahaan sehat.

Kota Jogjakarta juga merupakan ibu kota dari beberapa laundry franchise di atas. Selain memiliki outlet di luar kota Jogjakarta, mereka merajai wilayah Jogjakarta dengan mengambil market share masing-masing. Meski bersaing ketat, mereka terus berkembang karena masing-masing telah menciptakan pasarnya sendiri-sendiri.

Belum lagi pemilik pertama laundry kiloan yang kini lebih banyak berkecimpung di wilayah Tangerang, Banten.  Dialah Aditya Trituranta, pemilik Easy Clean. Ada juga Khris Gajahera, pemilik jaringan Extraqilo Laundry Batam, Kepulauan Riau. Sebelum menjadi pengusaha laundry seperti sekarang, Khris juga “kuliah” laundry di kota gudeg ini.

Mereka memilih untuk berkecimpung di luar Jogjakarta dan membentuk pasar sendiri. Sementara itu di Jogjakarta, persaingan laundry kelas menengah dan kelas bawah berada dalam kondisi yang sangat akut. Dibutuhkan edukasi serta penanganan yang lebih baik dan terorganisir seperti melalui himpunan atau asosiasi. Jika tidak, seleksi alam akan terus berlaku.

Ada komentar?

Baca Juga

Jangan lupa share :)

About Majalah Laundry

Majalah Laundry adalah media referensi usaha laundry. Terbit untuk Anda yang ingin menambah pengetahuan, wawasan dan tips serta trik dalam mengembangkan dan mengelola usaha laundry. Kami terus berupaya menghadirkan sesuatu yang baru ke hadapan Anda.
shares