Home / Lounge / [KUIS] Cerita Bersambung “Rumi”

[KUIS] Cerita Bersambung “Rumi”

Rumi menyandarkan sepedanya di depan ruko. Agak kasar, sehingga pintu harmonika ruko itu sedikit berteriak, “darr”. Sepedanya bukan tersandar, malah terkapar. Limbung. Rumi tak peduli. Pagi ini tak seperti biasanya, Rumi datang ke toko lebih awal karena ia harus mengantarkan anaknya sekolah lebih pagi. Radit, anaknya yang kelas lima SD, akan mengikuti kemah sehingga harus datang ke sekolah lebih awal. Jadi Rumi berpikir mengantar Radit sekalian berangkat ke toko, meski ia tahu toko belum buka sepagi itu.

Ia meletakkan pantatnya di bangku panjang depan ruko itu. Ia merasakan keringat menetes di beberapa bagian tubuhnya. Kanopi ruko sebesar itu serasa tak melindunginya dari sengatan matahari pagi. Tangannya reflek mengambil HP dari dalam tasnya. HP putih Android harga setengah jutaan itu ia buka.

Ia hanya ingin membaca pesan WhatsApp dari suaminya. Pesan yang dikirim dari negeri seberang itu ia baca berulang-ulang. “Mungkin kiriman bulan ini telat, gajiku belum terbayar”. Itulah pesan dari WhatsApp suaminya semalam, tetapi entah mengapa ia ingin membacanya berulang-ulang.

Matanya berkunang-kunang. Otaknya terus berpikir. Ia tak tertarik untuk membalas pesan suaminya. Ia tahu tanda centang biru sudah dilihat oleh suaminya, namun tak jua ia membalas pesan itu. Ia juga tahu, suaminyapun tak ingin mendapatkan balasan karena balasannya sudah pasti tidaklah menghibur atau memberi solusi.

Hampir satu jam kemudian, orang-orang di sekitar mulai berdatangan. Ruko di sekitar Rumi juga sudah mulai buka. Joni-pun datang. Joni adalah teman kerja Rumi di toko tersebut. Toko itu bukanlah sebuah tempat penjualan makanan atau kelontong, melainkan tempat laundry.

Hampir semua karyawan menyebutnya toko, untuk menggambarkan sebuah tempat kerja. “Tumben,” kata Joni sambil meletakkan helm di bangku dekat Rumi. Tumben yang dimaksud adalah karena Rumi biasanya datang setelah Joni.

“Anter Radit mau kemah,” jawa Rumi singkat. Sementara Joni membuka pintu ruko tersebut sambil entah mendendangkan lagu apa. Sekilas terlihat kabel earphone menjulur dari telinganya. Rumi bergegas masuk ke dalam ruko sementara Joni masih sibuk membuka pintu ruko agar terbuka lebar.

Ruko itu terbilang cukup besar. Sebenarnya hanya ada dua lantai. Atapnya yang rata kemudian dimodifikasi menjadi tempat pencucian dan penjemuran karpet. Sebuah mesin spinner karpet ada di lantai tiga tersebut. Mesin itu dinaikkan dengan menggunakan crane, dua tahun lalu.

Sepuluh orang bekerja di tempat itu. Satu bagian customer service pagi hingga siang. Satu bagian delivery dan selebihnya bagian produksi. Rumi berada di depan meja setrika hampir sepanjang hari. Ia adalah karyawan dengan masa kerja yang cukup lama yakni empat tahun. Sementara itu, Joni adalah bagian pencucian.

Waktu menunjukkan tepat pukul delapan, sebentar lagi toko buka, akan ada briefing setiap pagi. Hari ini jadwalnya dipimpin oleh Yus, supervisor di laundry tersebut. Beberapa karyawan sudah mengambil posisi di depan, di ruang front office. Ruang tersebut cukup besar untuk mengadakan briefing setiap pagi.

Tidak ada yang duduk, semua orang berdiri. Seperti biasa, selalu saja ada yang datang terlambat.  Imas adalah karyawan yang selalu datang nyaris terlambat saat brifing. Dengan setengah berlari, Imas karyawan bagian packing itu segera memasuki ruangan untuk mengikuti briefing. Ia segera mengambil posisi diantara karyawan lain.

Yus membuka briefing pagi dengan salam selamat pagi. “Pagiiiii…” sambut semua orang semangat. Lalu Yus melanjutkan paparannya. “Hari ini bos kita berangkat ke Singapore untuk beberapa hari. Mereka akan berlibur, sambil menengok anaknya yang kuliah di sana,” jelas Yus.

Beberapa orang tampak bisik-bisik menanggapi penjelasan Yus. Tetapi Yus segera memecah dengan menambahkan beberapa hal. “Meskipun bos kita tidak menengok kita secara langsung, tetapi beliau akan terus memantau kita. Saya akan memberikan laporan rutin seperti biasa, selain itu aktifitas kita juga akan terpantau melalui cctv karena alat tersebut sudah disambungkan ke internet,” katanya.

Lagi-lagi terdengar bisik-bisik beberapa orang. “Duh, nggak bisa ngebon,” bisik Rumi lirih. Padahal ia telah berharap bisa meminjam uang kepada bosnya tersebut. Terbayang sudah uang kontrakan yang pasti akan segera ditagih oleh pemilik rumah.

Kemudian Yus melanjutkan dengan briefing yang isinya rutinitas, evaluasi dan rencana kerja harian. Komplain pelanggan hari kemarin, jadwal antar jemput dan beberapa jadwal lain dibahas dalam briefing yang hanya berkisar lima belas menit itu.

Briefingpun selesai. Semua orang kembali untuk bersiap ke posisinya masing-masing. Pelanggan juga mulai berdatangan satu persatu. Rumi sudah mulai beraktifitas dengan mempersiapkan setrika uap. Joni sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya. Sementara itu karyawan lain, Mira bagian kasir atau customer service terlihat sibuk melayani pelanggan.

“Yan, pinjemin duit dong,” celetuk Rumi ke Yayan tiba-tiba. Yayan adalah karyawan bagian pencucian. “Ngarang, lu. Duit dari mana? Gajian juga sama bareng ama elu,” timpal Yayan cuek.

“Maratus kek, buat bayar kontrakan,” pinta Rumi.

“Sumpah, Rum. Gak ada. Kemarin juga si gendut mau mijem duit, emang dipikir gua ini gajinya lebih gede,” gumam Yayan.

“Ah, si gendut mah paling mau minjem buat beli gorengan…hahaha..,” sahut Rumi tapi Yayan sudah berlalu tak menghiraukan.

Si Gendut adalah panggilan untuk Ning, karyawan bertubuh tambun yang hari ini kebagian jaga kasir sore hari. Ia akan berjaga mulai jam empat sore hingga jam sembilan malam. Saat semua karyawan bagian produksi pulang tetapi dia berjaga untuk penerimaan dan pengambilan.

Siang itu semua berjalan seperti biasanya, tak ada yang istimewa. Tidak ada pelanggan yang marah-marah, tidak ada bencana pakaian kelunturan yang menghebohkan atau kejadian lain hingga jam istirahat siang tiba.

 

—————————

 

Seperti biasanya, karyawan bergantian untuk istirahat makan, sholat dan tiduran sebentar di musholla di lantai atas dekat pencucian karpet. Saat sedang istirahat, tiba-tiba ada panggilan masuk ke telepon genggam milik Imas.

“Halo, aya naon Bed?” sapa Imas ke si penelepon yang ternyata Ubed bagian delivery.

“Mas, saya kecelakaan. Nabrak budak leutik (menabrak anak kecil),” kata Ubed di ujung telepon.

“Euleu, siah! Trus kumaha, gimana? Parah?”

“Enggak sih, tapi disidang warga nih, dimintain tanggung jawab buat biaya betulin sepeda si anak itu,” jawab Ubed.

“Berapa?” tanya Imas sambil bergegas turun ke lantai bawah menemui Yus

Lalu percakapan Ubed disambung oleh Yus. Yus terlihat serius berbincang dengan Ubed melalui telpon. Karyawan lain tampak serius mengamati gerak-gerik Yus. Ingin tahu apa yang terjadi dan bagaimana keadaan Ubed.

 

Kemudian Yus menutup telepon dan mengembalikan ke Imas. Yus memastikan ke semua orang bahwa korban tidak terluka parah dan Ubed juga tidak apa-apa. Hanya saja sepeda milik si anak memang disebut rusak dan Ubed harus bertanggungjawab.

Semua lega. Sejam kemudian Ubed tiba. Semua bergegas memastikan bahwa Ubed tidak apa-apa. Tampak beberapa karyawan memeriksa Ubed sekilas untuk mengetahui apakah Ubed terluka atau tidak. Sebagian lagi terlihat memeriksa sepeda motor Ubed yang sudah dimodifikasi untuk layanan antar jemput cucian itu.

Kemudian semua kembali berjalan normal. Hingga jam lima sore, semua baik-baik saja. Hari kerja telah usai. Satu persatu karyawan pulang dan hanya tertinggal Ning, kasir jaga malam yang masuk mulai jam empat sore.

 

———————–

 

Keesokan harinya semua mulai seperti biasa. Hari Sabtu, suasana akhir pekan mulai terasa.  Sebelum briefing, tampak beberapa karyawan sibuk membahas rencana akhir pekan ini. Namun sepertinya briefing hari ini akan mundur karena Yus menginformasikan bahwa dia akan terlambat sepuluh menit.

Beberapa karyawan tampak sudah mulai mengahandle pekerjaan sebelum Yus datang.  Ada yang mulai menyortir pakaian kotor, ada juga yang mulai packing laundry kiloan.

Lalu, tepat jam delapan lewat sepuluh menit, Yus tiba. Semua bergegas menuju front office untuk dilakukan briefing. “Maaf saya telat,” kata Yus. “Bu Rianti tadi nelpon karena ada sedikit masalah,” lanjutnya.

“Kemarin kasir ada selisih uang setoran. Jumlahnya sekitar enam ratus ribu,” terangnya. Beberapa karyawan tampak saling berbisik. Wajah-wajah penasaran, takut, jengkel menjadi satu. “Sudah diperiksa cctvnya Mas?” tanya Pak Andang, karyawan bagian setrika.

“Kok bisa kurang sih?” timpal Septi, karyawan yang dikenal paling judes yang bekerja di bagian pencucian.

BERSAMBUNG ………

———————————————

Siapa yang mencuri uang kasir?

Tebak siapa yang mencuri uang kasir? Sebutkan alasannya.

Cerita ini akan bersambung setiap edisi bulanan. Pada edisi Agustus, akan terungkap siapa sebenarnya yang mencuri uang kasir. Silahkan tebak siapa pelakunya dan jelaskan secara singkat apa alasannya.

Kirimkan jawaban Anda disertai kupon KUIS CERBUNG MAJALAH LAUNDRY yang ada di kolom CERBUNG edisi XV (terbit Juni 2016) dan edisi XVI (terbit Juli 2016)

Kirim ke Redaksi Majalah Laundry:

Pondok Wage Indah I Blok J No. 6, Sidoarjo 61257

Ph. 08113602600

Jawaban diterima paling lambat 10 Agustus 2016.

Ada komentar?

Baca Juga

Jangan lupa share :)

About Majalah Laundry

Majalah Laundry adalah media referensi usaha laundry. Terbit untuk Anda yang ingin menambah pengetahuan, wawasan dan tips serta trik dalam mengembangkan dan mengelola usaha laundry. Kami terus berupaya menghadirkan sesuatu yang baru ke hadapan Anda.
shares