Home / Tokoh / Mahayu Yoga dan Yelly Seimbangkan Bisnis dan Karir

Mahayu Yoga dan Yelly Seimbangkan Bisnis dan Karir

Menjadi pekerja kantoran bukan berarti tidak bisa memiliki bisnis sendiri, termasuk mengelola usaha laundry. Saat harus tetep fokus pada pekerjaan pokok, usaha laundry yang dikelola juga tetap jalan dan berkembang. Hal tersebut dialami oleh sepasang suami istri Mahayu Yoga dan Yelly Tri Lestari.

Mereka berdua adalah pemilik Kirana Laundry yang berada di kota batik, Pekalongan, Jawa Tengah. Saat ini mereka berdua sama-sama bekerja di rumah sakit, Yoga sang suami bekerja di RSUD Bendan, Kota Pekalongan, sementara Yelly, sapaan sang istri, bekerja di RSIA Anugerah di kota yang sama.

Meski sama-sama bekerja, namun keduanya tetap bisa mengelola laundry dengan baik. Saat Majalah Laundry berkunjung ke kediaman mereka beberapa waktu lalu, dengan semangat Yoga dan Yelly bercerita bagaimana awal mulanya usaha di bidang laundry dimulai.

mahayu yoga dan yelly tri lestari
Yoga dan Yelly bersama kedua buah hati

“Awalnya tahun 2008, waktu itu direktur rumah sakit tempat saya bekerja mempercayakan saya untuk mengelola cucian pasien dan keluarga pembezuk di rumah sakit,” kata Yelly memulai cerita. Saat awal membuka usaha laundry, lanjut Yelly, mereka hanya memiliki satu mesin cuci dua tabung.

Usaha yang semula hanya melayani satu rumah sakit tersebut kemudian mendapat sambutan dari warga sekitar. Meski bertempat di dalam perumahan, Kirana Laundry lalu menjadi langganan para tetangga menitipkan pakaian untuk dicuci. Hal tersebut tak lepas dari hubungan baik antara Yoga dan Yelly dengan warga sekitar.

Kirana Laundry terus berkembang. Selain pelanggan dari warga umum mulai berdatangan, tempat kerja Yelly juga terus mengalami peningkatan. Awal mula hanya sebuah klinik, kemudian menjadi rumah sakit dengan standar yang terus ditingkatkan. “Saat ini sedang persiapan untuk memiliki gedung dengan lima lantai,” ujar Yelly bangga.

Mahayu Yoga dan Yelly Tri Lestari
Yoga dan Yelly bersama kedua buah hati

Kebanggaan Yelly cukup beralasan, ia yang kini menjabat sebagai Manager Bagian Umum dan SDM itu mengerti betul perkembangan rumah sakit tempatnya bekerja. Bahkan, layanan laundry yang ia kerjakan juga termasuk dalam fasilitas rumah sakit sebagai kemudahan bagi keluarga pasien.

Kini Mahayu Yoga dan Yelly Tri Lestari berniat untuk terus mengembangkan usaha laundry mereka. “Masih banyak potensi yang belum dioptimalkan,” kata Yoga. Ia sadar betul masih banyak yang bisa digenjot untuk menaikkan omzet. “Tapi setidaknya saya bersyukur sudah bisa berkembang seperti sekarang ini,” lanjutnya.

Yoga masih ingat betapa mereka dulu mengawali usaha laundry tanpa adanya pengalaman. “Dulu hanya browsing aja, otodidak,” katanya. Selain itu mereka juga gemar mencari buku-buku yang membahas seputar usaha laundry.

Selain melalui buku, aktifitas mereka di dunia maya kemudian mengantarkan mereka ke komunitas pengusaha laundry. “Dulu ada yang ngajak saya gabung ke ASLI di Facebook,” kata Yelly. ASLI yang dimaksud adalah grup Asosiasi Laundry Indonesia. “Saya memang sedang mencari wadah atau komunitas untuk sharing-sharing tentang laundry, untung ketemu ASLI,” imbuhnya.

Saat ini pasangan yang menikah tahun 2005 tersebut dalam kondisi sedang bersemangat untuk mengembangkan usaha laundry. “Kami ingin usaha sampingan ini terus berkembang dan kelak menjadi bisnis utama, terutama saat anak-anak sudah masuk sekolah menengah,” kata Yoga.

Selain itu, sebagai pekerja karir, mereka berdua bermaksud untuk menghindari adanya post power syndrome di kemudian hari. Sekedar informasi, post power syndrome adalah gejala dimana seseorang tenggelam dalam bayang-bayang kehebatan, kebesaran, prestasi pada masa lalunya sehingga ia sulit menerima keadaan yang terjadi sekarang.

“Usaha laundry adalah pilihan agar kelak saat sudah bukan sebagai pekerja karir, kami tetap bisa beraktifitas produktif sambil membesarkan anak-anak,” imbuh pria berkacamata tersebut bersemangat. Namun Yoga dan Yelly sepakat untuk tidak memaksakan diri membesarkan usaha mereka. Mereka mencoba mengikuti saja alurnya.

Pasalnya, beberapa bulan lalu mereka berdua terjebak dalam aktifitas padat saat mereka berupaya menggenjot omzet laundry sementara kekuatan belum mencukupi. “Pernah dapat order dari hotel tapi malah keteteran, sampai kami harus menyediakan shift malam di workshop laundry,” kenang Yelly.

Ia masih ingat betul saat mendapatkan order hotel dengan sistem kerja cepat dan semua harus sempurna. Hal itu membuatnya cukup kerepotan. “Malam-malam ya harus ke workshop untuk kontrol kerjaan karyawan,” kata Yelly. Bukan hanya itu, demi mendukung kelancaran order hotel tersebut, Yoga harus rela menjadi tenaga antar jemput dengan motor roda tiga setiap pagi sebelum berangkat kerja.

Tapi hal itu hanya bertahan selama tiga bulan. Mereka kemudian menyerah. Kerjasama dengan hotel tersebut diputus. Namun alasan paling kuat untuk memutus kerjasama adalah karena mereka tidak memiliki waktu yang cukup dalam keluarga. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga anak-anak jarang ‘dipegang’.

Kini, orang tua dari Kirana (10 tahun) dan Masayu (7 tahun) tersebut memilih untuk mengikuti saja alurnya. “Meskipun kami serius bekerja dan mengelola usaha, tetapi kami memilih tidak ngoyo, tawakkal saja,” kata mereka kompak.

Ada komentar?

Baca Juga

Jangan lupa share :)

About Majalah Laundry

Majalah Laundry adalah media referensi usaha laundry. Terbit untuk Anda yang ingin menambah pengetahuan, wawasan dan tips serta trik dalam mengembangkan dan mengelola usaha laundry. Kami terus berupaya menghadirkan sesuatu yang baru ke hadapan Anda.

BACA JUGA

fajar mosta

Fajar Mosta: Jadi Pengusaha Jangan Gagal Fokus

MEA sudah datang, pengusaha Indonesia harus bersatu padu dan bahu membahu untuk saling membangun. Tidak ...

shares