Home / Tokoh / Nisa Hakim: Mempertahankan Sebuah Usaha Lebih Sulit Dari Memulainya

Nisa Hakim: Mempertahankan Sebuah Usaha Lebih Sulit Dari Memulainya

Di kala banyak anak muda mengikuti idealisme mereka dengan bekerja sesuai hobi dan tren, tidaklah demikian dengan dara yang satu ini. Dengan titel Sarjana Kesehatan Masyarakat, gadis ini kini menjadi manajer di sebuah pusat supplier mesin laundry.

Namanya Chairunisa Hakim atau biasa disebut Nisa. Di usianya yang masih terbilang muda, Nisa kini menduduki salah satu pos penting di PT. Kharisma Putra Sejahtera atau biasa disebut PMLC, singkatan dari pusatmesinlaundry.com, website perusahaan tersebut.

Meski berkarir di perusahaan milik keluarga, tak membuat Nisa canggung atau tanggung dalam bekerja. Ia ingin menepis anggapan bahwa bekerja di perusahaan milik orang tua berarti anak yang manja.

“Awalnya saya merasa, jika bergabung dengan perusahaan keluarga, saya akan terlihat seperti anak manja. Saya akan dianggap tidak bisa berjuang sendiri, hanya mampu melanjutkan apa yang sudah dicapai orang tua dengan susah payah,” ujar Nisa.

Namun ia mengaku ingin sekali membuktikan bahwa ia bisa mandiri. Meskipun tak bisa dipungkiri, sebagai mahasiswi yang baru saja lulus, awalnya ia masih idealis dengan pekerjaan-pekerjaan impian semasa kuliah.

“Ingin melanjutkan freelance asisten riset agar bisa mendapat rekomendasi dari dosen untuk beasiswa master di luar negeri, bekerja di Kementrian Kesehatan dan mengabdi pada negara, tinggal di luar negeri dan magang di WHO atau LSM, adalah bayangan apa yang akan saya kerjakan lima tahun ke depan,” terangnya.

Namun, kini gadis penyuka musik dan baca buku ini mengaku tak memaksakan diri meneruskan impian tersebut. Ia memilih bergabung dengan PMLC. “Orang tua saya tidak pernah memaksa saya untuk melakukan sesuatu. Mereka cukup bijaksana dengan memberi saya kebebasan dalam menentukan jalan hidup, mulai dari menentukan kampus mana yang ingin saya tempati, jurusan apa yang akan saya ambil, serta ingin jadi apa kelak. Mereka hanya menawarkan sebuah pilihan; turut bergabung di perusahaan ini, which I know, jika saya mengambil pilihan tersebut, orang tua saya akan senang,” kata Nisa yang mulai bergabung sejak Oktober 2015 tersebut.

Ketika ditanya mengenai alasan terbesarnya bergabung ke bisnis penyediaan mesin laundry milik sang ayah, Nisa berargumen bahwa ketika pertama kali bergabung dengan PMLC semasa menjelang kelulusan, merupakan momen yang semakin menyadarkannya perihal mau jadi apa nanti selepas wisuda.

“Saya melihat banyak sekali wisudawan baru saja menyelesaikan studi sarjananya. Jika saya adalah satu mahasiswi yang berpikir akan menjadi pekerja setelah lulus kuliah, kira-kira ada berapa banyak dari ribuan wisudawan yang saya lihat, yang juga ingin jadi pekerja?” tukasnya.  Padahal, lanjut Nisa, menurut data statistik dari BPS, pada tahun 2014, terdapat 816.505 lapangan pekerjaan di Indonesia dan ada 1.295.149 pencari kerja. Artinya, akan ada ribuan wisudawan yang berebut lapangan kerja dengan mereka.

“Tak ada yang salah memang, jika ingin bekerja dan menekuni profesi masing-masing. Setiap tahun jumlah angkatan kerja bertambah, tapi tidak dibarengi dengan naiknya lapangan pekerjaan. Adakah kita ingin menjadi bagian dari problem solver atas masalah ini? What do you think?” tanyanya.

Butuh Adaptasi

Sebagai karyawan yang terbilang baru, Nisa mencoba untuk belajar banyak hal. “Saya manfaatkan kesempatan ini dengan mencoba  memahami dan belajar di semua bagian. Namun ada dua bagian yang menjadi konsentrasi saya saat ini, yaitu ranah Financial System and Management, serta Import Activity and International Relation,” terangnya.

Perbedaan cara pandang dari seorang fresh graduate jurusan Public Health yang social-oriented, menjadi seseorang profit-oriented merupakan sesuatu yang tak mudah baginya. Meskipun ia mengaku tak sedikit ilmu dari bangku kuliah serta kegiatan di BEM yang ia rasakan manfaat untuk diterapkan di PMLC. Selain itu kesulitan lainnya adalah masalah waktu, banyak hal yang masih belum ia  ketahui pada masa awal mulai bekerja.

Berbicara mengenai strategi bisnis, Nisa mengaku hanya menerapkan hal yang sangat sederhana dari sebuah fungsi manajemen saja yaitu Planning, Organizing, Actuating, Controlling, Evaluating plus Kaizen. “Fungsi ini adalah sebuah rangkaian yang saling terkait dan berkesinambungan. Jadi menurut saya, tidak akan optimal jika kita melewatkan pada salah satu diantara fungsi tersebut.

“Ketika POACE sudah berjalan, hal penting lainnya adalah penerapan Kaizen, atau biasa disebut continuous improvement.Tidak boleh kita merasa puas dan sombong ketika bisa menyelesaikan atau mencapai suatu prestasi,” ujarnya panjang lebar.

Ia menambahkan pentingnya improvement walau hanya pada hal-hal kecil. Karena menurutnya jika hal itu dilakukan secara terus-menerus akan menjadi improvement yang besar. “Saya juga menekankan pada diri saya khususnya, setelah menetapkan tujuan dan target yang jelas, dalam bekerja kita harus process-oriented,” imbuh Nisa.

Nisa yakin proses yang baik akan menciptakan hasil yang baik. “Mungkin banyak orang yang tidak melakukan proses kerja yang baik dan benar, namun ‘kelihatannya’ mampu mendapatkan hasil yang memuaskan. Menurut saya, hal tersebut hanya akan menjadi bom waktu kelak,” tegasnya.

Lebih lanjut Nisa mengatakan, akan datang masa ketika kesalahan-kesalahan kecil terakumulasi dan menciptakan masalah besar. Impact buruknya, oleh sebab tidak terbiasa menerima dan melakukan perbaikan atas kesalahan kecil, akan lebih sulit dan jauh membuat stress untuk bisa menghandle masalah yang sudah terlanjur besar.

Dalam lingkup kerja, Nisa Hakim juga mampu beradaptasi dengan karyawan lain. Ia ingat betul di saat awal masuk kerja sedikit mengalami kesulitan untuk menanggalkan kesan “anak bos”. “Karena koordinasi dan interaksi kami lakukan setiap hari, everything’s good. Para tetua either manager or security, seperti mentor saja. Banyak pula dari temen-temen karyawan yang lebih muda dari saya, jadi seperti teman. They can even chat me in the middle of night for curhat or just talking about movie,” ujarnya sambil tertawa ringan.

Sulung pasangan Lukmanul Hakim dan Dian Hermawati ini menambahkan, kedua orangtuanya merupakan guru pertama dalam hidupnya. ”Mereka terbiasa memberikan pendidikan langsung kepada saya dan adik-adik sejak masih kecil. Bisa dengan cara sharing, diskusi pun konsultasi. Baik mengenai kehidupan, pendidikan, cara bermasyarakat, serta masalah rohani,” kata Nisa.

“Ketika saya bergabung dengan usaha keluarga ini, saya merasa bahwa usaha ini hanya satu dari banyak ‘mata kuliah’ yang kami pelajari dan bagi bersama di keluarga. Usaha kecil ini merupakan sarana belajar bagi kami sekeluarga,” imbuhnya. Ia berharap PMLC bukan hanya tempat mencari keuntungan saja, tetapi juga menjadi tools yang mampu membuatnya memahami kedua orang tua dan keluarga lebih dalam lagi.

Ketika ditanya mengenai cita-cita, Nisa Hakim menyebut begitu banyak yang ia impikan terkait dengan usaha keluarga tersebut. “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling memberikan manfaat kepada orang lain. Semoga PMLC bisa bermanfaat bagi banyak pihak, tidak hanya bermanfaat secara materi, tapi juga bermanfaat ilmu dan nilai-nilai kebaikan yang justru lebih berharga dan everlasting dibanding materi,” pungkasnya.

Ada komentar?

Baca Juga

Jangan lupa share :)

About Majalah Laundry

Majalah Laundry adalah media referensi usaha laundry. Terbit untuk Anda yang ingin menambah pengetahuan, wawasan dan tips serta trik dalam mengembangkan dan mengelola usaha laundry. Kami terus berupaya menghadirkan sesuatu yang baru ke hadapan Anda.

BACA JUGA

Hj. Sairoh

Inilah H. Maryono Tarko dan Hj. Sairoh, Sosok Dibalik Merek Maomoto

Perjalanan hidup seseorang tak bisa ditebak, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi lima ...

shares