Home / Tokoh / Apik Primadya, Low Profile High Profit

Apik Primadya, Low Profile High Profit

Bagikan Sekarang!

Pembawaaanya kalem. Saat berbicara di depan forum juga tidak menggebu-gebu. Setiap pertanyaan audiens dijawabnya dengan sabar. Dialah Apik Primadya.

Apik adalah owner dari Apique Laundry. Pria kelahiran Nganjuk, 31 tahun yang lalu ini kini bermukim di Jakarta. Saat diadakan silaturahmi komunitas laundry di Surabaya beberapa waktu yang lalu, Apik hadir. Panitia mendaulatnya untuk berbagi pengalamannya di bisnis laundry.

Apik yang memulai bisnis laundry pada tahun 2008 ini sebelumnya bekerja di sebuah perusahaan provider seluler dengan jabatan yang cukup mentereng. Dia memulai bisnis laundry saat masih bekerja di perusahaan tersebut sambil kuliah. Awal mula muncul ide mendirikan usaha laundry adalah ketika semasa kuliah, dia harus membawa pakaian kotor setiap berangkat kuliah yang jaraknya cukup jauh.

Kemudian, bersama beberapa orang temannya, dia mulai mendirikan usaha laundry. Saat itu yang dia ketahui tentang laundry hanyalah; pakaian kotor datang, dicuci pakai mesin, dijemur lalu disetrika. “Ya ngertinya hanya itu. Bahkan saya sendiri nyaris nggak pernah nyuci baju sendiri, akhirnya ya cari pegawai. Saat ada yang melamar kerja, saya tanya ‘bisa nyuci? Bisa nyetrika?’ dia jawab bisa, ya sudah langsung kerja,” ujarnya mengenang.

Saat memulai, laundry milik Apik hanya mengerjakan 20 kilogram perhari. Saat itu Apik sudah familiar dengan internet, lalu dibuatlah sebuah blog yang isinya artikel tentang tempat usahanya. Apik hanya berpikir jika ada nama dan alamat laundry miliknya di internet, suatu saat akan ditemukan orang, lalu pelanggan berdatangan. “Waktu itu ya nggak pakai keywords, nggak pakai trik apalagi iklan di Google,” katanya. Dan benar, lambat laun laundry miliknya mulai dikenal. Dalam waktu tiga tahun, omsetnya bisa tembus rata-rata 100 kilogram perhari.

Mulai Menerapkan Sistem Agen

Karena omzetnya terus meningkat, Apik kemudian meningkatkan layanan dan coverage. Dia menjaring pelanggan dengan cara menyebar agen di beberapa tempat. Didatangilah beberapa kios pulsa atau wartel untuk dijadikan agen. Namun, Apik punya strategi sendiri mengenai agen. “Saya nggak mau pakai agen yang hanya pasang papan nama agen saja di toko-toko kelontong.” tegasnya.

Apik menerapkan agen yang berstandar. Dia berpikir bahwa agen adalah bagian dari pelayanan laundry miliknya, sehingga harus dibekali dengan pengetahuan mengenai laundry. “Agen juga harus ditraining, agar mereka memiliki standar layanan terhadap pelanggan. Selain itu, saya juga menempatkan spanduk toko yang cukup besar dan rak display. Jadi pakaian yang sudah selesai dari order agen tersebut dipajang, sebagai bagian dari promosi,” katanya.

Strateginya berhasil, bahkan ada agen yang omzetnya mencapai Rp. 50 juta perbulan. Meski tak jarang ada komplain masuk dari pelanggan karena ada agen yang tidak menjalankan standar seperti misal judes, sering tutup dll. Kini Apique Laundry telah memiliki 13 outlet dengan produksi mencappai 700 kg – 1 ton per hari.

Meski sukses di bidang laundry, Apik masih belum tertarik menerapkan sistem franchise. Semua outlet Apique Laundry berstatus sebagai outlet cabang milik sendiri. Berbekal pengalaman di pekerjaan sebelumnya, Apik mengendalikan sendiri bisnis laundry tersebut. Bahkan demi mendapatkan karyawan yang sesuai standart, ayah dari Julian Eliezer Primadya ini hampir selalu mendampingi manajer saat wawancara karyawan baru.

Penghargaan

Keberhasilan Apik Primadya memanfaatkan internet dengan membuat blog di Blogspot untuk mendongkrak bisnisnya rupanya diketahui oleh para petinggi Google. Saat Google mengadakan acara Gapura Google, Apik Primadya tampil sebagai salah satu pembicara. Suami dari Liviana Ayu Luvinda ini juga menjadi salah satu dari 20 wirausaha sukses yang diangkat dalam sebuah buku best seller berjudul 20 Wirausaha UKM Sukses.

Lalu apa rahasianya? “Beri perhatian khusus mengenai komplain,” katanya singkat. Apik lalu melanjutkan, setiap ada pelanggan komplain, jangan sampai ada tindakan saling menyalahkan. Meskipun kesalahan terjadi pada salah satu tahapan kerja, tetapi bukan berarti orang pada tahapan tersebut yang harus dihukum.

“Membuat eskalasi prosedur penanganan komplain menjadi keharusan dalam sebuah bisnis laundry. Beri penjelasan dan kejelasan kepada pelanggan agar pelanggan kembali percaya. Jangan melemparkan sebuah komplain untuk mencari-cari kesalahan pegawai, tapi carilah solusinya,” pungkasnya.

Bagikan Sekarang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares