Home / Profil / Budak di Negeri Orang, Kini Jadi Bos di Negeri Sendiri

Budak di Negeri Orang, Kini Jadi Bos di Negeri Sendiri

Bagikan Sekarang!

Budak di Negeri Orang, Jadi Bos di Negeri Sendiri

Memang benar kata orang, hidup itu ibarat roda, pasti berputar kadang di atas kadang di bawah. Kadang menjadi bawahan namun kadang juga menjadi atasan. Perjalanan hidup seseorang terkadang tak ada yang bisa menduga akan seperti apa. Dulunya menjadi budak atau bekerja untuk orang lain di negara orang, kini menjadi pengusaha di negeri sendiri. Tabloid Laundry mewawancari beberapa orang pengusaha laundry yang dulunya bekerja atau magang di luar negeri. Berikut liputannya.

Hendro Sanjaya

Pria kelahiran Brebes ini pernah 3 tahun bekerja di Korea Selatan. Pengalaman di dunia laundry ia dapatkan dari bekerja di sebuah outlet laundry di Jakarta. “Saya malang melintang di dunia laundry, Mas. Pokoknya seru deh,” ujarnya mengenang. Kini Hendro Sanjaya memiliki satu outlet dengan 5 orang karyawan.

Usaha laundry yang ia dirikan kini justru dikelola secara langsung oleh sang istri. Hendro memilih melanjutkan bekerja di tempat lain yang tidak ada kaitannya dengan dunia laundry. Meski begitu, ia tak pernah meninggalkan komunitas pengusaha laundry untuk terus mengupdate ilmu dan berbagi tips dengan para pengusaha lainnya.

Outlet laundry milik Hendro diberi nama Washerre. “Dalam bahasa Belanda, washerre itu artinya tukang cuci, kalau tidak salah,” kata Hendro menjelaskan. Outlet yang berada di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan itu rata-rata mengerjakan 100kg perhari. Belum lagi ditambah cuci satuan, bed cover dan agen laundry karpet.

Anang Mulyana

Anang Mulyana & Keluarga

Pada tahun 2003, di Jogjakarta dan Bandung usaha laundry sudah mulai menampakkan geliatnya. Usaha tersebut cenderung menjadi tren di kalangan pengusaha sekitar kampus. Namun usaha laundry masih terbilang minim di kota-kota kecil seperti Tasikmalaya, Jawa Barat. Adalah Anang Mulyana, yang pada waktu itu memiliki sebuah usaha rental komputer yang “ditantang” oleh mahasiswa/wi Universitas Siliwangi Tasikmalaya untuk mendirikan usaha laundry. “Di Tasikmalaya waktu itu masih jarang sekali usaha laundry, saya tertantang untuk membukanya,” kata Anang

Pria yang pernah bekerja di perusahaan persewaan alat-alat bangunan di Kawasaki, Tokyo, Jepang ini kemudian nekat membuka usaha laundry. Karena berada di kawasan kampus, pelanggannya rata-rata adalah mahasiswa. Modal yang ia dapatkan dari bekerja di Jepangpun mulai bekrmbang. Kini, Anang memiliki dua outlet laundry yang berada di Jl. Perintis Kemerdekaan dan Jl. BKR. Keduanya di kota Tasikmalaya.

Pengalaman hidup di Jepangpun mengilhami dia untuk memberi nama outlet laundrynya dengan bahasa Jepang. “Namanya Qireiklin. Qirei atau kirei artinya bersih.” kata Anang. Outlet laundry dengan gedung warna ungu itu juga dimanfaatkannya sebagai agen perusahaan ekspedisi. Kini, satu outlet milik Anang mampu mengerjakan rata-rata 100 kg. Itupun belum termasuk cuci satuan dan cuci sofa.

Wawan & Wiwit

Wawan & Wiwit

Cerita yang kurang lebih sama dengan beberapa mantan buruh migran lain dialami oleh sepasang suami istri. Mereka adalah Wawan dan Wiwit. Keduanya sama-sama mantan pekerja di luar negeri. Tepatnya di Korea Selatan. Pada awalnya, keduanya sama-sama bekerja di Kotrea Selatan dari 2000 – 2002. Setelah itu mereka menikah.

Awalnya, usaha yang mereka rintis adalah wartel dan butik batik. Mereka memulai usaha di Jember, kota kelahiran Wiwit. Pada saat itu bisnis wartel memang masih memungkinkan. “Tapi lama kelamaan wartel makin tidak laku. Mulai sepi.  Butik juga sama, uang hasil penjualan entah kemana karena kebanyakan mereka para pembeli mengutang sehingga uang sulit  terkumpul,” ujar wanita bernama lengkap Wiwit Nurdiyanti  mengenang.

Kemudian pada 2005 Wawan kembali mengadu nasib ke Korea Selatan. Sementara itu Wiwit tinggal di rumah orangtuanya di Jogjakarta. Setelah uang mulai terkumpul,menjelang kepulangan suami dari luar negeri, Wiwit merintis usaha laundry di tahun 2010 dengan harapan agar saat suami pulang bisa langsung mengelola usaha milik sendiri tanpa harus kembali keluar negeri.

Kini berkat ketekunan mereka, laundry yang awalnya hanya mampu menerima 30kg cucian itu sudah mulai menunjukkan hasil dengan 100 – 150 kg/hari. Selain itu, tiga bulan lalu Wawan dan Wiwit juga bisa membuka cabang di Jember yang kini menerimaseitar 30kg perhari. Outlet laundry mereka di Jogjakarta juga sudah mereka renovasi menjadi dua lantai. Selain untuk laundry, mereka juga membuka toko kelontong. Meski berada di gang kecil, outlet bernama Cahaya Laundry itu cukup laris.

Bagikan Sekarang!

Check Also

ketty murtya

Ketty Murtya Memilih Meneruskan Bisnis Ortu

Tak banyak anak muda yang mau meneruskan bisnis milik orang tua. Kebanyakan anak muda saat ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares