Home / Kolom / Dari 4 Kuadran Ini, Anda Termasuk Pengusaha Laundry yang Mana?

Dari 4 Kuadran Ini, Anda Termasuk Pengusaha Laundry yang Mana?

Bagikan Sekarang!

Salah satu yang dibahas Coach Armala dalam Kopdar Nasional Wirausaha UKM bersama Asosiasi Laundry Indonesia di Bali beberapa waktu lalu adalah kuadran time vs money. Kuadran dimana menjadi gambaran para pengusaha laundry yang mencakup empat kategori.

Empat kuadran tersebut adalah; 
No Time – Have Money, 
Have Time – No Money, 
No Time – No Money 
Have Time – Have Money

Coach Armala menjelaskannya gamblang, dengan ilustrasi pengusaha laundry, lengkap dengan seluk beluknya. Saya akan menjabarkan ulang dengan penambahan redaksional.

Pertama: No Time Have Money

Ini terjadi pada pengusaha laundry yang merangkap CEO (Chief Everything Officer) alias menjalankan bisnisnya sendirian. Pengusaha laundry seperti ini no time, have money. Omzetnya cukup, dia bisa mempunyai uang tetapi dia tidak punya waktu lagi untuk kegiatan lain.

Tipe ini bukan tipe pengusaha, kata Coach Armala. Ini tipe pedagang. Persis seperti tukang bakso keliling. Waktunya hanya untuk berdagang. Meski punya uang, tapi ia tak punya waktu lebih. Sebutan lain untuk tipe ini adalah Pekerja Profesional Mandiri.

Dalam bisnis laundry juga ada yang seperti ini. Karena belum memiliki karyawan, semua dilakukannya sendiri. Biasanya terjadi karena belum mampu atau belum berani mendelegasikan pekerjaan kepada karyawan.

Ada yang takut tidak bisa bayar karyawan, ada yang khawatir sepi, ada juga yang berpikir enggn keluar biaya untuk menggaji karyawan karena dianggap gaji karyawan adalah pengeluaran.

Kuadran ini biasanya usaha akan berhenti ketika owner tidak masuk kerja.

Kedua: Have Time, No Money

Kuadran kedua ini dihuni mereka-mereka yang sebetulnya punya waktu lebih. Selain mengurus bisnis, dia bisa jalan-jalan, bisa berkumpul dengan yang lain, bisa ikut berorganisasi tapi sayangnya dia “have no money”. Nggak punya uang.

Biasanya terjadi karena omzetnya jeblok, banting harga, manajemen kurang bagus dan gagal dalam memasarkan bisnisnya. Waktu yang dia punya mestinya dimanfaatkan untuk berpikir mengembangkan usaha, minimal menaikkan omzet. Tapi justru dia buang-buang waktu untuk hal yang tidak produktif.

Ketiga: No Time, No Money

Inilah kuadran terparah. Pengusaha pada kuadran ini terlihat sangat sibuk, bahkan untuk menemuinya saja sangat sulit. Tapi sebenarnya selain tidak punya waktu, dia juga tidak punya uang.

Orang-orang dalam kuadran ini sering sekali mengatakan “time is money”. Waktu adalah uang. Artinya kalau dia tidak punya waktu, berarti juga tidak punya uang. 
Waktunya habis untuk bekerja di bisnisnya sendiri, tetapi bisnisnya tidak dapat menghasilkan uang. Biasanya karena salah manajemen, salah mindset dan gagal dalam memasarkan produk atau jasanya.

Kuadran ini biasanya usaha bisa jadi akan berhenti ketika owner tidak masuk kerja.

Keempat: Have Time Have Money

Inilah kuadran impian. Semua pengusaha mau masuk dalam kuadran ini. Uang mengalir ke rekening, dia juga punya waktu lebih untuk mengurus yang lain selain bisnisnya.Lebih teratur dan lebih rapi. Pembukuan juga sudah terstandar.

Bisnis tetap berjalan meskipun owner tidak ada di tempat.
Jalan-jalan, berkumpul dengan keluarga setiap saat, berkumpul dengan komunitas bukan lagi kesulitan.

Bahkan sebagian dari penghuni kuadran ini ada yang memiliki aktifitas baru sebagai pembicara seminar atau sekedar berbagi pengalaman dalam mengelola bisnis.

Nah, pada posisi manakah Anda saat ini?

Penulis: Anto Wiyono
Pimred Majalah Laundry
Owner Animo Laundry

Bagikan Sekarang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares