Home / Profil / Juragan Setrika Uap Ini Pernah Jadi Tukang Cuci Piring

Juragan Setrika Uap Ini Pernah Jadi Tukang Cuci Piring

Bagikan Sekarang!

Pernah mengalami kesulitan, kecelakaan kerja dan nyaris menutup usahanya, pria ini kini menjadi salah satu pemasok setrika uap terbesar di Indonesia. Berikut ini wawancara kami dengan Arief Farady, pemilik JUPE (Juragan Pengering) dari kota kecil Lumajang, Jawa Timur.

                Bagi pengguna mesin setrika uap, nama JUPE pasti tak asing lagi. JUPE adalah sebuah merek setrika uap, mesin pengering dan berbagai mesin untuk kebutuhan laundry. Kesuksesan JUPE menguasai pasar setrika uap dan mesin pengering di Indonesia adalah berkat tangan dingin Arief Farady.

               Pria kelahiran 30 September 1986 ini bercerita panjang lebar kepada Majalah Laundry seputar usahanya sejak masih dalam tahap coba-coba. “Dulu saya tukang cuci piring di Malang,” ujar Arief mengawali ceritanya.

                Lalu, Arief melanjutkan kisahnya jauh sebelum mengenal dunia laundry seperti sekarang ini. Ia dulu bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah rumah makan di Kota Malang. Bekerja di Malang adalah sebuah kebanggan tersendiri bagi sebagian anak muda di Lumajang.

                Meski bekerja sebagai buruh kasar, pamor kota Malang membuat para perantau dari Lumajang lebih bangga ketimbang merantau ke Surabaya atau Bali. “Saya juga pernah menjadi sales door to door dengan menjual alat-alat seperti pisau dapur, lampu senter atau gunting set,” ujarnya mengenang.

                Hal tersebut ia alami sebelum tahun 2008. Hingga kemudian ia menikah dan bekerja sebagai salah satu tenaga honorer di Kantor Pelayanan Pajak Pembantu di Kota Lumajang.

                Saat menikah, sang istri adalah seorang guru. Pada suatu ketika, Arief pernah berbincang dengan istrinya tersebut. “Kalau kamu mau jadi guru, jangan berharap uang karena guru itu tugasnya menebar ilmu, bukan mencari uang,” kata Arief kala itu.

                Kemudian, dengan berbagai pertimbangan, sang istri memutuskan keluar dan mendirikan usaha laundry di rumah. Naluri bisnis mereka sudah mulai nampak. “Saya berinovasi dengan menyediakan layanan antar jemput gratis di Lumajang,” katanya. Saat itu, di Lumajang memang belum ada layanan antar jemput gratis. Arief mengaku menjadi yang pertama menyediakan layanan tersebut.

                Saat itu, sebelum berangkat atau sepulang kerja, Arief masih harus mengantar dan jemput cucian milik pelanggan.  Hal itu ia lakukan agar meningkatkan omzet serta memberi nilai lebih pada laundry miliknya.

                Ia juga sambil belajar memperbaiki mesin. Ketika ada mesin yang rusak, ia coba utak-atik sendiri. “Daripada keluar biaya untuk ongkos tukang servis,” ujarnya beralasan.  Tak hanya itu, mesin pengering yang berdaya panas listrik dia otak-atik dengan merubahnya berdaya panas gas elpiji.

                Ketika berhasil membuat satu mesin pengering yang dikonversi, ia coba-coba untuk menjualnya. Ia tawarkan melalui Tokobagus. “Saya kaget, malam itu saya posting di Tokobagus, besok langsung laku,” katanya.

                Padahal, ia mengaku saat itu anti belanja online. Jual beli melalui online belumlah semarak seperti saat ini. Ia tak ingin menjadi korban penipuan belanja online. Namun, hal itu terbantahkan. Saat si calon pembeli mesin pengeringnya menunjukkan minat, Arief meminta  uang ditransfer dulu,  baru barang dikirim. “Saya kaget lagi karena orang itu langsung transfer. Begitu uang sudah dikirim, saya bingung cara pengirimannya,” ujarnya disertai kelakar.

                Tak puas dengan satu “hasil karya”, Arief terus meningkatkan kemampuannya dengan mengotak-atik lebih banyak mesin. Ia menyebut, setidaknya ada enam mesin pengering yang jadi “korban”. Bahkan pernah suatu ketika salah satu mesin yang ia kerjakan meledak karena ada gumpalan gas di dalam mesin. Ketika api menyala, langsung menyambar mesin dan meledak seketika. “Saya sampai diinterogasi polisi dikira merakit bom,” kata Arief.

                Lalu, dengan tekad yang bulat, Arief memutuskan untuk berhenti bekerja. Selain merasa tidak kerasan bekerja di kantor pajak, ia juga ingin lebih fokus pada “mainan” barunya seputar mesin laundry. Ia juga ingin lebih banyak berkumpul dengan keluarga.

                Lambat laun, usahanya di bidang mesin laundry mulai berkembang. Bukan hanya mengkonversi mesin pengering, Arief juga memproduksi mesin setrika uap. Mesin pengering ukuran besar juga ia produksi untuk kebutuhan laundry besar maupun laundry komersial.

Pabrik Setrika Uap JUPE

                Kini di atas tanah seluas 6000 meter persegi di kawasan Tempeh, Lumajang, Arief mendirikan pabriknya. Di sanalah dibuat dan dipasarkan mesin-mesin laundry seperti boiler setrika uap, mesin pengering, mesin cuci kapasitas besar, meja setrika uap dan flatwork ironer dengan merek JUPE. Merek tersebut juga sudah ia daftarkan ke Kemenkumham.

                Sedikitnya ada 15 orang yang bekerja di JUPE. Pusat penjualan produk JUPE juga terdapat di Bali, Surabaya, Banjarmasin, Makassar, Aceh dan Jakarta. Ia menyebutkan, layanan purna jual, kualitas barang serta terus berpromosi merupakan sebagian dari strategi bisnisnya.

                Kini, Arief ingin mengembangkan bisnis lain. “Saya ingin terjun ke bisnis properti. Bali sepertinya cukup menantang untuk memulai bisnis itu,” pungkasnya. [anto]

Bagikan Sekarang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares