Home / Manajemen / Kaidah Pengerjaan Laundry Syariah

Kaidah Pengerjaan Laundry Syariah

Bagikan Sekarang!

Pertumbuhan bisnis laundry di Indonesia terbilang cukup pesat. Bisnis ini tampaknya tidak akan pernah surut. Berbagai macam layanan tambahan dalam usaha bisnis laundry semakin bermunculan. Bukan hanya layanan tambahan, urusan cuci-mencuci itu sendiri telah mengalami berbagai macam bentuk perubahan, penyempurnaan dan pengkhususan. Salah satunya adalah hadirnya layanan laundry syariah. Beberapa tahun terakhir, banyak pengusaha laundry yang mengkhususkan diri untuk fokus pada layanan laundry syariah.

Laundry, pada dasarnya adalah layanan kebersihan. Namun, beberapa orang masih belum begitu yakin bahwa jika sebuah pakaian dicuci kemudian bisa dianggap suci sesuai syariah Islam.  Karena itulah, muncul layanan laundry syariah.

Laundry syariah sebenarnya lebih pada menggabungkan serta meyakinkan pelanggan bahwa hasil cuciannya tersebut bersih serta suci dan diproses dengan menggunakan cara yang menurut ajaran Islam, syar’i. Syar’I di sini bukan hanya proses pencuciannya, tetapi juga sumber bahan dan sumber lain yang digunakan adalah halal.

Salah satu  pengusaha laundry syariah adalah  Ananta Wijaya yang bertempat di Semarang, Jawa Tengah. “Awal berdirinya pada tahun 1994 milik orang tua  di Jakarta dan 2007 saya buka sendiri di Semarang, tertariknya usaha dibidang laundry selain ilmu warisan dari orang tua juga ingin syiarnya masalah thaharah kepada pelanggan dan masyarakat, bahwa laundry itu tidak cuma bersih, wangi dan rapih namun yang utama ialah suci,” ujarnya kepada Tabloid Laundry.

Menurut Ananta, konsep laundry syariah yang ia bangun bertujuan agar memberi rasa nyaman dan yakin kepada pelanggannya bahwa pakaian yang dicuci di tempatnya layak dan siap untuk dipakai ibadah karena sudah suci. “Hal yang paling penting dalam pencucian adalah thoharah, membersihkan hadast atau najis dengan menggunakan air mutlak atau air yang suci dengan cara menuruhkannya,” lanjutnya.

Bukan hanya dalam cara mencuci yang distandartkan sesuai syariah, dalam membangun kerjasama dengan pelanggan dan mitra waralabapun Ananta menerapkan standart syariah. “Pertama, modal harus terbebas dari RIBA karna banyak pengusaha saat ini mendapatkan modal dari RIBA contoh, pinjam uang di bank dengan cicilan yang lebih besar dari nilai pinjaman. Itu haram,” ujar Ananta.

Ananta menambahkan, semua karyawan di laundrynya wajib sholat. Untuk laki-laki harus ikut sholat jamaah di masjid terdekat, segera setelah terdengar adzan. Untuk kemitraan, pihaknya menerapkan system mudharabah atau dengan cara bagi hasil.

Sementara itu menurut dosen Fisika Program Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan Jogjakarta, sekaligus ustadz di Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak, Jogjakarta, Dr. M. Toifur M.Si, kinerja pembersihan yang sesuai syariah itu menurut tingkatan najis. “Ada tiga jenis najis. Pertama adalah najis ringan atau najis Mukhaffafah .Yang termasuk najis ringan ini adalah air kencing bayi laki-laki yang hanya diberi minum ASI tanpa makanan lain dan belum berumur 2 tahun. Untuk mensucikan najis mukhafafah ini yaitu dengan memercikkan air bersih pada bagian yang kena najis,” terang Ustadz Toifur.

Najis jenis lain yaitu najis sedang atau najis biasa disebut najis Mutawassithah yang merupakan najis dari  segala sesuatu yang keluar dari kubul dan dubur manusia dan binatang/hewan. Air kencing, kotoran buang air besar dan air mani/sperma adalah najis, termasuk bangkai (kecuali mayat orang, bangkai ikan dan belalang), air susu hewan haram, khamar, dan lain sebagainya. “Najis sedang ini dibagi menjadi dua, yakni Najis ‘Ainiyah  yang merupakan najis yang jelas terlihat rupa, rasa atau tercium baunya dan Najis Hukmiyah  yang tidak tampak seperti bekas kencing dan minam keras,” lanjut ustadz Toifur.

Untuk membuat suci najis terlihat caranya adalah dengan dibasuh 1 – 3 kali dengan air bersih hingga hilang benar najisnya. Sedangkan untuk najis yang tidak tampak  dapat kembali suci dan hilang najisnya dengan jalan dialirkan air di tempat yang kena najis.

Najis yang ketiga adalah Najis Mughallazhah atau Najis Berat. Najis Mughallazhah contohnya seperti air liur anjing, air iler babi dan sebangsanya. Najis ini sangat tinggi tingkatannya sehingga untuk  membersihkan najis tersebut sampai suci harus dicuci dengan air bersih 7 kali di mana 1 kali diantaranya menggunakan air dicampur tanah.

Menengok jenis najis di atas, menurut ustadz Toifur kesucian pakaian tergantung dari jenis najis dan cara pensuciannya. Ada baiknya, najis berat memang tidak dicuci di laundry namun ditreatment sendiri dengan cara tersebut di atas. Atau jika terpaksa dibawa ke laundry, harus menyampaikan kepada pihak pengelola laundry agar pakaian yang terkena najis berat ditreatment pensucian sesuai syariah. [anto]

Bagikan Sekarang!

Check Also

si penuda pekerjaan

Salah Kaprah Bagi si “Penunda Pekerjaan”

Menunda pekerjaan sekilas menyenangkan, tapi sebenarnya ia adalah musuh utama produktivitas kerja. Namun, ada perbedaan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares