Home / Manajemen / Laundry Autopilot, Apaan Sih?
laundry autopilot adalah

Laundry Autopilot, Apaan Sih?

Bagikan Sekarang!

Mungkin banyak diantara kita yang sering mendengar istilah autopilot. Istilah ini kerap digunakan para pengusaha dalam mengibaratkan sebuah bisnis yang sudah bisa berjalan meski owner tidak sepenuhnya mengendalikan.

Istilah autopilot juga kerap digunakan oleh para pengusaha laundry. Disebut laundry autopilot apabila bisnis laundry dapat berjalan normal meski owner tidak sepenuhnya terjun.

Kenapa owner saya sebut di sini, yakni karena kebanyakan (hampir semua) laundry skala UKM di Indonesia pada awalnya dibangun berkat terjun langsungnya si pemilik.

Jika kemudian usaha laundry sudah berkembang, owner bisa saja mengambil waktu untuk tidak terjun langsung, tetapi bisnis tetap jalan.

Lalu, bagaimana sebuah usaha laundry skala UKM bisa autopilot? Tentu saja adalah membuat sebuah sistem. Sistemlah yang menjadikan sebuah bisnis dapat berjalan. Dengan sistem, usaha laundry dapat berjalan dengan proses bisnis yang benar.

Tanpa sistem, bisnis apapun tidak akan berjalan dengan baik. Tidak ada arahan atau orientasi.

Bagaimana jika sebuah usaha laundry dimulai hanya dengan tenaga si owner?

Tentu saja dimulai dengan menambah karyawan. Satu orang karyawan dapat menjalankan tugas mengurangi beban pekerjaan owner. Banyak sekali usaha laundry yang awalnya dijalankan sendiri oleh si owner. Mulai dari mencuci, menjemur, menyeterika, packing sampai antar jemput.

Owner harus sudah mulai mengurangi beban dengan cara menambah karyawan. Misal khusus bagian setrika, atau bagian mencuci. Satu atau dua rantai pekerjaan diserahkan ke karyawan. Owner bisa punya lebih banyak waktu. Waktu yang tersedia bisa digunakan untuk memikirkan hal-hal yang dapat meningkatkan produktifitas. Sebar brosur, sebar proposal, mencari agen, beriklan di media sosial atau sekedar untuk melakukan perawatan mesin dan properti di waktu longgar.

Banyak hal yang mengendap di pikiran owner namun tidak dapat ia jalankan karena waktunya habis untuk pekerjaan utama. Padahal, mestinya owner tidak melakukan hal-hal yang dasar. Tapi tak apa. Namanya juga laundry UKM.

Takut karena bayangan tidak dapat memberi gaji pada karyawan baru? Tenang. Setiap manusia sudah diberi jatah rejeki oeh Yang Maha Kuasa. Tawakkal saja. Bahkan, semakin banyak Anda punya karyawan, maka omzet akan semakin tinggi karena Anda tidak sendirian berdoa.

Pada saat mendelegasikan pekerjaan kepada karyawan, Anda bisa sekaligus mentransfer budaya kerja atau alur kerja yang ada di laundry Anda. Jika budaya kerja tersebut positif, tetapkan sebagai SOP atau Standart Operational Procedure.

Sedikit demi sedikit, SOP akan terbentuk di laundry Anda.

Kemudian, Anda bisa menambah lagi karyawan. Transfer budaya kerja lagi. SOP jalan lagi. Tambah karyawan lagi dan seterusnya. Hingga seluruh alur pekerjaan di laundry Anda bisa dihandle oleh karyawan.

Tanpa terasa, omzet semakin meningkat, karyawan tambah lagi. Anda bisa punya waktu lebih banyak lagi. JIka perlu, bagian marketing juga bisa dihandle oleh karyawan.

Karyawan makin banyak, maka penyesuaian SOP, trial and error akan semakin sering dilakukan hingga Anda mendapatkan SOP yang paling pas dan baku. Itulah yang disebut dengan sistem.

Mulai dari jam berapa karyawan masuk, absensi dengan cara apa, bagaimana seragam mereka dijadwalkan, cara menerima pelanggan, cara tersenyum, cara menjawab telepon, cara menghadapi komplain, bahkan jenis musik apa yang pas disetel di laundry juga mestinya sudah diatur semua.

Sekali lagi, itulah sistem. Nadi dari bisnis Anda.

Ketika Anda tidak lagi terlibat secara langsung, bisnis Anda tetap jalan. Siapa yang menjalankan? Sistemlah yang menjalankan. Darimana dapat sistem? Dari SOP. Darimana dapat SOP? Dari penyesuaian budaya kerja dan seterusnya.

Itulah saat dimana bisnis laundry Anda disebut autopilot. Bisa jalan tanpa pilot.

Namun jangan salah kaprah. Meski sudah autopilot, bukan berarti Anda bisa lepas begitu saja. Apalagi dalam waktu yang lama.

Anda perlu mengecek sesekali apakah SOP berjalan. Apakah ada properti yang mesti diperhatikan. Apakah perlu nambah karyawan. Apakah ada karyawan yang ingin curhat dll.

Kehadiran Anda dalam bisnis tetap diperlukan. Meski sudah autopilot.

Di luar itu, Anda punya banyak waktu untuk berpikir. Menyusun strategi marketing. Mencari ide. Renovasi. Rebranding. Buka cabang dll.

Namun semua itu tidak akan terjadi jika Anda tidak memikirkannya sejak awal. Bisa jadi Anda takut jika punya karyawan akan ditipu, uang ditilap, setoran diembat dll.

Sekali lagi, gunakan sistem. Bukankah sekarang sudah banyak aplikasi kasir online untuk laundry. Kalaupun belum pakai, toh banyak cara agar loyalitas karyawan terjaga. Kejujuran terpelihara. Uang aman.

Tapi banyak pula owner laundry yang stagnan bertahun-tahun hanya begitu-begitu saja karena tidak punya visi dan misi. Tidak punya target. Hanya berfikir S3 (Start Setir Setor) seperti sopir angkot. Hari ini nyari uang untuk sekarang, besok nyari lagi.

Mestinya, bisnis apapun termasuk laundry juga bisa dibuatkan sistem. Dengan sistem, bisnis berjalan baik, bahkan lebih cepat. Stabil, jika perlu malah bisa diwariskan. Saat kita sudah tidak bisa terjun langsung, sistem tetap jalan. Bahkan sampai anak cucu kita tetap bisa menikmatinya.

Kalau laundry dijalankan sendiri selamanya, mana kala kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa, maka bisnis otomatis tutup. Tidak ada yang bisa diwariskan. (AW)

Bagikan Sekarang!

Check Also

si penuda pekerjaan

Salah Kaprah Bagi si “Penunda Pekerjaan”

Menunda pekerjaan sekilas menyenangkan, tapi sebenarnya ia adalah musuh utama produktivitas kerja. Namun, ada perbedaan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares