Home / Chemical / Membangun Brand Produk Chemical Laundry

Membangun Brand Produk Chemical Laundry

Bagikan Sekarang!

Bisnis laundry terus berkembang. Setiap hari selalu saja ada outlet laundry baru yang dibuka. Kini mencucikan pakaian di laundry sudah bukan gaya hidup mewah lagi, sebagian masyarakat sudah menjadikannya sebagai rutinitas dan kebutuhan. Tentu saja hal ini membuat demand atas deterjen industri semakin meningkat.

Seiring dengan hal tersebut, banyak bermunculan produsen deterjen laundry dan bahan kimia turunan di sekitarnya. Ada yang hanya untuk konsumsi pribadi, dijual eceran hingga mendirikan manufakturing yang profesional.

Banyak produsen deterjen ini yang sedang bergerak dalam masa transisi dari industri rumahan ke bisnis profesional. Beberapa berhasil merangkak dengan progress positif, tapi sebagian juga stagnan dan bahkan berhenti berproduksi. Ada beberapa penyebab sebuah industri bisa berhenti atau bangkrut dan tinggal kenangan.

Tips di bawah ini mungkin bisa membantu Anda mengingatkan agar tetap fight, solid dan growing up.

1. Merek.

Buatlah merek dengan berprinsip pada beberapa hal ini. Merek harus lugas, mudah diingat, memberi rasa bangga, berkesan positif dan dapat diterima di pasar. 

Sesorang pernah menyodorkan merek ke kami dengan nama “BR8”. Saat kami tanya artinya, dia jawab “BR8” dari kata “Bright” dibaca bright/bra-eit. Sekilas memang tujuannya bagus, tetapi susah dibaca sekaligus susah dikenali frasenya. Orang tersebut suka dengan nama ini tetapi belum tentu pasar bisa “menerimanya”. Kami mengambil analogi, jika membuat merek atas dasar kesukaan dan ego, sementara orang lain susah mengenali itu ibarat memilih hidangan kue lebaran yang hanya kita yang doyan, sementara tamunya tidak suka dan tidak tahu cara memakannya. 🙂 

Lalu, merek yang dicreate berdasarkan emosi juga belum tentu baik, meski juga bisa growing. Misal, jika kita bekerja di deterjen Mawar, lalu setelah resign kita buat sendiri dengan merek deterjen Melati. Ini terkesan sangat sempit. Terkesan tujuan Melati hanya untuk menempel Mawar, bukan menguasai market secara luas.

2. Desain dan kemasan.

Mengembangkan sebuah merek bukan hanya soal kualitas barang. Desain tampilan logo, materi iklan, desain kemasan harus memberi efek “wow”. Serahkan kepada desainer grafis untuk mengolah merek Anda dengan desain terbaik. Lihatlah desain dengan kacamata umum, bukan berdasarkan kesukaan pribadi. 

Soal kemasan, banyak produsen deterjen menggunakan jerigen bekas. Ini tidak dilarang meskipun sebaiknya jangan. Syaratnya: kemasan daur ulang harus sudah steril. Baik kebersihan luar maupun dalam. Pastikan sudah tidak ada efek bahan kimia lain di dalam jerigen. Bersihkan bagian luar jerigen sampai bersih, lalu beri label Anda sendiri. Ini bisa memangkas biaya produksi. Jangan gunakan jerigen bekas yang masih kotor, bersisa label bekas atau tulisan spidol bekas. Semakin cantik kemasan, semakin gemas orang menggunakan produk Anda. Jangan hanya berpikir soal kualitas deterjen, tapi pikirkan juga soal kemasan dan desain label. Ini tidak bisa dibantah, karena kita sedang membicarakan pengembangan brand. Harus komprehensif.

Bisa juga dengan jerigen bekas, tetapi tutupnya baru.

3. Konsisten.

Chemical Laundry

Anda boleh memberi warna pink untuk parfum Snappy, hijau untuk Green Tea, kuning untuk Akasia dan lain-lain. Tetapi Anda harus konsisten. Jika memutuskan memberi warna tertentu untuk setiap varian, pastikan ini akan menjadi ciri khas produk Anda. Jangan berubah-ubah. Sekali Anda merubah karakter setiap varian, saat itu juga pelanggan Anda akan menurunkan tingkat kepercayaan. Produk Anda bisa dibilang palsu atau abal-abal. Jadi, konsistenlah.

Kasus lain. Deterjen cair, tepol dan emulsifier mungkin karakternya hampir sama. Jangan beri pelanggan Anda deterjen cair saat dia minta emulsifier atau sebaliknya. Jangan beri dia tepol saat dia minta deterjen cair. Jika stok memang sedang kosong, beri dia pengertian, jangan hanya selling oriented alias yang penting jualan. Beberapa pelanggan memang tidak banyak paham soal ini, tapi hasil kerja produk Anda akan berbicara. Hasil yang tidak sesuai harapan hanya akan menurunkan tingkat kepercayaan. Pada saatnya, Anda akan ditinggal pergi oleh pelanggan. Mau?

4. Pengiriman.

Saat calon pelanggan luar kota menanyakan perkiraan waktu barang terkirim, berilah jawaban yang masuk akal. Bekerjasamalah dengan perusahaan ekspedisi yang bisa dipercaya dan memberi ketepatan dalam waktu pengiriman.

Pastikan barang terkirim sampai ke alamat pemesan. Jika memang harus melalui jasa titipan, berikan informasi yang jelas di pool mana dan kapan si pemesan harus mengambil barangnya. Ingat, orang lebih suka memesan barang lalu sampai di depan pintu rumah mereka.

Tidak ada pelanggan yang mau berlama-lama menunggu pesanan datang. Apalagi dengan memesan secara online. Jangan membuat pelanggan harap harap cemas dengan nasib orderannya.

Seorang teman pernah mengatakan, “seorang politikus bisa berbohong sesekali, tapi seorang penjual bisa habis riwayatnya ketika sekali berbohong.” Berilah kepastian kepada pelanggan dan bekerjasamalah.

5. After sales.

Layanan purna jual (after sales) adalah layanan yang tidak dapat dipisahkan dari sebuah tata niaga distribusi. Garansi, konsultasi, kemudahan repeat order adalah bagian dari purna jual. Setelah berhasil menjual, jangan kemudian Anda lupakan si pembeli. Jadikan dia keluarga dalam jaringan distribusi Anda. Ajak mereka bicara, sesekali disapa dan ajukan pertanyaan jika ada kendala dalam pemakaian atau penjualan mereka. 

Jika pembeli adalah reseller, berikan tips penjualan dan bantu dia dalam promosi. Jangan buat penjualan terputus. Putusnya komunikasi hanya akan memutus jalur distribusi dan menghambat penetrasi produk. Ini akan membuat brand Anda mati suri, atau bahkan mati beneran. 

Berikan pula kemudahan garansi, tukar barang bahkan bila perlu lakukan refund jika sebagian produk Anda dinilai gagal fungsi. 

6. Repeat Order.

Jika ada seorang pembeli yang baru pertama transaksi, buatlah si pelanggan tersebut merasa nyaman dengan produk Anda. Pastikan manfaat produk bisa terdelivered dengan baik.

Anda bisa menghubunginya kembali untuk memancing repeat order. Tapi bukan dengan cara langsung menanyakan kapan beli lagi. Sapalah ia, tanyakan apa kendalanya, pancinglah testimony darinya.

Kemudian tawarkan pembelian ulang. Jika perlu, suruh dia ajak temannya untuk ikutan membeli produk Anda. Jika ia berhasil mengajak teman untuk membeli produk tersebut, beri penghargaan.

Anda bisa memberinya diskon atau produk tambahan secara gratis sebagai tanda terima kasih atas kesediaannya mereferensikan produk Anda kepada orang lain. Jangan pelit. Sediakan budget untuk promosi dengan cara ini.

7. Selektif Dalam Bersosial Media

Anda boleh saja bangga dengan produksi Anda sendiri. Anda boleh menyampaikannya kepada orang lain. Baik secara langsung maupun melalui media sosial. Tetapi ingat, Anda harus selektif memilih gambar atau foto mana yang layak diunggah dalam kaitan untuk brand development atau promosi.

Sering terlihat di media sosial, sebuah brand produk deterjen home industri memperlihatkan cara mereka mengolah bahan, mengemas, storing hingga delivering. Mereka mengunggah gambar “apa adanya”.

Misal, karyawan bagian produksi sedang mengolah bahan dengan telanjang dada, sambil merokok di lantai yang kurang bersih.

Nah, itulah beberapa tips dari kami untuk meningkatkan citra produk Anda yang kemudian diikuti oleh volume penjualan yang meningkat. Di kesempatan mendatang, kami akan berbagi tips yang bertolak belakang dengan tips ini, yakni hal-hal yang bisa memperburuk citra produk Anda.

Bagikan Sekarang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares