Home / Kolom / Psikologi Bisnis Era Marketing 3.0

Psikologi Bisnis Era Marketing 3.0

Bagikan Sekarang!

Istilah psikologi merujuk pada ilmu yang mempelajari tentang manusia, cara berpikirnya, cara merasakan, cara mempersepsikan sesuatu serta bagaimana manusia bertindak terhadap sesuatu. Psikologi bisa digandengkan dengan ilmu sosial lain seperti komunikasi, sosiologi, antropologi, sejarah dan termasuk juga bisnis. Kegunaan psikologi tidak saja untuk perkembangan manusia itu sendiri, melainkan juga terhadap entitas bisnis seperti perusahaan.

Salah satu cabang pengetahuan yang memanfaatkan psikologi adalah pemasaran (marketing). Dulu kita mengenal istilah Marketing 1.0 yang memfokuskan pada keunggulan produk dibandingkan kompetitor. Inovasi, kreatifitas, pengembangan ide adalah andalan perusahaan/merk dalam merebut hati konsumen. Namun sayangnya, era ini berlangsung begitu cepat. Konsumen lebih kritis dan jeli dalam memilih apa yang menjadi kebutuhannya dan apa yang hanya sekedar keinginannya.  Maka masuklah era Marketing 2.0 yang fokus pada konsumen. Di sini riset menjadi “nyawa” dari sebuah siklus produk. Siapa sasarannya, bagaimana demografinya, bagaimana cara menyusun pesan pemasarannya dan seterusnya. Pada masa ini, konsumen dikotak-kotakkan sesuai karakteristiknya sehingga perusahaan/merk mampu menyesuaikan pesan komunikasinya sesuai sasaran.

Sekarang fase berikutnya sudah mulai datang, yaitu era Marketing 3.0. Di sini ada tambahan nilai yang harus ada dalam produk/merk tersebut, yaitu manusia dan lingkungan. Tidak heran di era ini dikenal istilah 3P, yaitu Profit, People dan Planet. Selain mengejar keuntungan, perusahaan juga harus memikirkan dampak sosial dan lingkungan dari aktifitas bisnis mereka.  Jangan sampai limbah pabrik merusak lingkungan. Jangan sampai keberadaan perusahaan dalam suatu daerah membuat masyarakat di sekitar dirugikan secara materiil dan non materiil. Saat ini konsumen sudah sedemikian pintar dan cerdas, mereka memutuskan untuk membeli sesuatu tidak lagi dari iklan melainkan rekomendasi. Dan apa yang terjadi kalau sumber referensi mereka mengatakan kalau merk tersebut telah mencemari lingkungan?

Di dunia yang sudah tidak ada lagi batasan antara negara dengan negara, korporat dengan korporat, individu dengan individu, merk bisa menjadi leader sekaligus loser. Ingat kasus sebuah mal yang membalas tweet salah satu pengunjungnya yang komplain tentang harga parkir yang mahal? Akun Twitter resmi mal tersebut membalas dengan kata-kata “kalau kere jangan main ke mal, Mba”. Tentu saja mal tersebut menjadi bulan-bulanan netizen lainnya.

Saat ini orang tidak bisa lagi dibodohi dan dibohongi dengan berita palsu, berita menyesatkan, fakta yang dipelintir, maupun opini yang sengaja digiring. Mereka lebih kritis, lebih cerdas, dan lebih percaya testimoni ketimbang iklan. Inilah karakter psikologi konsumen di era Marketing 3.0. Dan hebatnya lagi, di sini segmentasi lain seperti umur dan lokasi hampir memudar. Berganti pada trending topics.

Psikologi Konsumen

Saat konsumen sudah menjadi kritis terhadap sebuah nilai yang diusung perusahaan/merk, maka saat itu pula fitur produk sudah menjadi kurang relevan dalam memikat pasar. Coba perhatikan, apa yang terjadi ketika Sinar Mas dituduh bersalah dalam kebakaran hutan di Riau?  Terjadi penurunan besar-besaran terhadap penjualan tissuenya baik di pasar dalam negeri maupun luar negeri.  Ketika Starbucks mengkampanyekan dukungan terhadap LGBT, mendadak ada kampanye balasan untuk memboikot kafe kopi tersebut. Pun sama dengan ketika petinju Philipina “Pac Man” yang menolak LGBT, sepatu Nike mendadak menghentikan kontraknya. Alih-allih Nike mendapat simpati, justru Pac Man yang banjir dukungan.

Konsumen saat ini sangat sensitif terhadap nilai, baik nilai moral, nilai kemanusiaan, nilai bisnis dan sebagainya. Apa yang menurut mereka telah dilanggar oleh perusahaan/merk, maka berimplikasi terhadap keputusan mereka dalam membeli produk. Bedanya dengan “zaman dulu”, sekarang semua serba transparan. Seorang yang tinggal di pedalaman hutan Amazon pun bisa tahu apa yang telah dilakukan oleh sebuah perusahaan yang beroperasi di kutub utara. Sebagai pengusaha, Anda tidak bisa menutupi sesuatu dari konsumen. Mereka yang akan mencarinya sendiri.

Karena corporate value saat ini menjadi “panglima”, maka produk, servis, operasional yang berkaitan dengan merk tertentu harus berada dalam bingkai nilai. Produk Anda harus ramah lingkungan, tidak mencemari, tidak membuat limbah yang berbahaya, tidak merusak ekosistem, dan tentunya tidak menimbulkan efek rumah kaca. Produk Anda pun harus berorientasi pada kepentingan masyarakat,bisa menciptakan lapangan kerja, bisa memberikan nilai tambah pada daerah tersebut, bahkan membantu perekonomian sektor riil.

Bisnis laundry, misalnya. Sekilas memang tidak terlihat kaitan antara pencuci pakaian dengan 3P tadi. Namun jika larutan yang digunakan untuk mencuci baju tersebut ramah lingkungan, tidak menimbulkan potensi penyakit pada penggunanya, aman dari bahaya racun kmiawi, maka bisnis laundry tersebut telah mengusung nilai yang diterapkan dalam Marketing 3.0. Lalu jika pemilik laundry tersebut membuka kesempatan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk memiliki usaha pencucian pakaian dengan sistem waralaba dan modal terjangkau, berarti juga turut mendukung people khususnya ekonomi sektir riil.

Apa manfaat apabila sebuah perusahaan berorientasi pada 3P dalama Marketing 3.0? Pertama, merk tersebut akan mampu bersaing di era yang sangat kompetitif ini.  Saat ini persaingan tidak saja berurusan dengan teknologi, inovasi terbaru, fitur canggih atau hal-hal teknis lainnya. Karena bisa jadi jika hari ini sebuah merk kalah dengan kompetitornya dari segi fitur, besok ia bisa kembali menang ketika memunculkan teknologi terbaru. Dan lusa kalah dengan kompetitor lain yang meluncurkan harga lebih murah. Jadi, persaingannya tidak akan pernah dimenangkan oleh siapapun dan kapanpun. Maka yang bisa dilakukan adalah nilai apa yang sudah diberikan perusahaan/merk tersebut terhadap masyarakat dan lingkungan. Ini yang dijadikan pertimbangan utama bagi konsumen cerdas era digital sekarang.

Kedua, perusahaan bisa mendapatkan duta-duta merknya secara sukarela tanpa dibayar. Pada dasarnya konsumen (yang merupakan sekumpulan invididu-individu) sangat menyukai (dan cenderung membela) sesuatu yang dianggap sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan.  Mereka akan secara sadar dan rela mendukung perusahaan yang memperjuangkan sesuatu yang berharga. Apalagi jika memang sebelumnya perusahaan tersebut tidak punya masalah terkait lingkungan atau manusia. Para brand advocators ini yang akan menjadi corong perusahaan ketika di-bully atau dijelek-jelekkan oleh kompetitor.

Ketiga, kredibilitas. Ini memang tidak terkait langsung dengan profit, namun sangat berpengaruh di tingkat global. Apalagi sekarang sudah banyak lembaga / institusi kelas global yang mengakreditasi perusahaan dari berbagai sisi. Jika sebuah merk telah mendapat pengakuan dunia terhadap people dan planet, dampaknya kredibilitas akan meningkat dan venture capital akan mempercayakan investasi pada perusahaan tersebut.

Keempat, reputasi. Banyak perusahaan membangun reputasi dengan memfokuskan diri pada kegiatan yang berhubungan dengan media. Tidak salah memang, tapi jika hanya ingin menunjukan diri sebagai merk terbaik di industrinya, maka nantinya kompetitor pun akan melakukan hal yang sama. Daripada menunjukkan how important your product, lebih baik tunjukkan how your product help people and planet. Selain lebih bernilai news value , merk akan berdiri di tengah kerumunan pemain sejenis yang hanya mengandalkan fitur dan teknologi belaka.

Jadi, psikologi konsumen saat ini lebih fokus pada nilai, bukan (sekedar) produk.

Oleh: Dwi Arif Kurnianto
(* Penulis saat ini adalah sebagai komisaris di PT Royal Arch Indonesia, perusahaan yang membawahi Wonderwash Group dan Washing Factory, layanan penyedia jasa dan kebutuhan perlengkapan laundry di Indonesia.)

Bagikan Sekarang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares