Home / Manajemen / Salah Kaprah Bagi si “Penunda Pekerjaan”

Salah Kaprah Bagi si “Penunda Pekerjaan”

Bagikan Sekarang!

Menunda pekerjaan sekilas menyenangkan, tapi sebenarnya ia adalah musuh utama produktivitas kerja. Namun, ada perbedaan antara menunda pekerjaan dengan memerlukan waktu sejenak untuk berdiskusi, melihat pekerjaan dari perspektif lain atau melihat aspek lain dari pekerjaan tersebut. Itu semua tidak bisa dibiarkan ketika sudah mengintervensi produktivitas kerja Anda.

Tak peduli Anda pemilik usaha ataupun karyawan, menunda pekerjaan selalu berakibat buruk. Begitu banyak peluang untuk terjadinya penundaan pekerjaan dan itu sangat mengancam kelancaran usaha Anda.

Akar dari penundaan yang dilakukan seringkali berawal dari pembenaran-pembenaran yang secara sadar maupun tidak sadar ‘dipatuhi’ sehingga membuat pekerjaan tidak selesai secara optimal. Berikut adalah beberapa pembenaran yang biasa dijadikan alasan untuk menunda pekerjaan:

“Kerjakan Besok Ah..”

Alasan ini sering  dipakai oleh anak-anak kecil namun yang cukup mengejutkan, banyak pula orang dewasa yang ‘nyaman’ menggunakannya hingga sekarang. Padahal, ada pepatah yang mengatakan, “Jangan tunda sampai besok pekerjaan yang bisa diselesaikan hari ini.” Jalan terbaik untuk keluar dari godaan alasan yang seolah terdengar nikmat itu adalah motivasi diri Anda untuk menyelesaikan pekerjaan saat ini. Jangan remehkan kekuatan dari memberi hadiah bagi diri sendiri setelah menyelesaikan pekerjaan yang melelahkan, karena itulah yang membuat banyak orang bertahan dalam kemalasan dan budaya menunda pekerjaan.

“Tidak Ada Waktu untuk Ini!”

Sebenarnya setiap orang selalu memiliki waktu untuk mengerjakan suatu hal, jika ia mau. Misalnya, alokasikan saja 10 menit di setiap pagi untuk melaksanakan tugas yang selama ini dianggap tidak pernah bisa dilakukan karena sibuk. Dengan begitu, progress akan terlihat, baik itu sedikit demi sedikit maupun secara pesat. Yang pasti, itu akan mengurangi beban kerja dan pikiran Anda. Sesederhana itu.

“Ah, Tugasnya Terlalu Banyak!!”

Proyek yang besar seringkali memakan ‘korban’. Ya, si pekerja itu. Ketika mendapat proyek besar, seringkali kita melihatnya sebagai monster ganas yang sangat besar yang harus dihadapi sendiri tanpa bantuan pahlawan super manapun. Dengan kata lain, beban kerja yang sebanyak itu secara alamiah akan dengan mudah membuat mental jatuh dan menunda pekerjaan yang seharusnya segera diselesaikan.

Melihat beban kerja yang seperti monster itu bisa diselesaikan dengan membaginya dalam bagian-bagian kecil. Artinya, bagian-bagian tersebut dapat disusun berdasarkan prioritas yang mesti diselesaikan dalam  proyek, sehingga tidak ada kepanikan dalam menyelesaikan satu pekerjaan untuk maju ke pekerjaan selanjutnya.

“Akan Kerjakan yang Itu Setelah Mengerjakan yang Ini”

Pada fase ini, sangat penting untuk memiliki prioritas, namun bukan berarti Anda harus mengerjakan satu proyek tanpa menghiraukan proyek lainnya. Jika Anda memiliki dua proyek yang harus diselesaikan bersamaan di akhir bulan, Anda tentu tidak dapat terus menerus terpaku pada salah satu pekerjaan saja.

Solusinya adalah, tetap fokus pada proyek pertama akan tetapi mulai juga untuk menyelesaikan tugas-tugas awal atau dasar di proyek kedua. Beri waktu untuk istirahat sebentar demi merefresh otak sebelum memulai proyek berikutnya. Dengan begitu, ketika Anda selesai dengan proyek kedua, tidak akan sulit untuk menjaga momentum pekerjaan di proyek kedua yang sudah dicicil sejak awal.

“Tugas Itu Tidak Terlalu Penting”

Pembenaran sejenis ini sering dipakai dalam beberapa situasi oleh karyawan. Pertama, ketika tugas yang harus dikerjakan bukanlah tugas utama miliknya. Dalam posisi itu, si karyawan bisa saja merasa terpaksa untuk melakukan pekerjaan tersebut sehingga itu dianggap tidak terlalu penting. Solusinya adalah, tetap menekankan kepada si karyawan bahwa itu merupakan bagian pekerjaan insidentil untuknya.

Situasi kedua adalah tugas ini adalah tugas sampingan dari tugas sehari-hari si karyawan. Tugas semacam ini seringkali menjadi “anak tiri” dalam rutinitas sehari-hari. Namun yang perlu diingat bahwa debu-debu kecil yang lama tidak disapu akan menggunung dan mengganggu, begitupun dengan pekerjaan semacam ini. Maka, seyogyanya pekerjaan itu segera dimulai.

“Aduh, Terlalu Capek”

Ada dua hal penting mengenai ini. Pertama, tidak ada yang bisa benar-benar mengetahui cara memberitahu bagaimana suasana hati Anda esok hari. Anda tidak pernah tahu apakah esok hari memiliki suasana hati yang sama, lebih baik atau bahkan lebih buruk daripada hari ini.

Kedua, cukup mengejutkan bahwa ternyata mengerjakan tugas yang berat di kantor dapat memperbaiki suasana hati Anda. Perasaan yang dipacu oleh keinginan menyelesaikan tantangan yang ada di dalam pekerjaan tersebut dapat menaikkan suasana hati yang sedang kurang baik, terlebih jika Anda sudah berencana menghadiahi diri Anda ketika pekerjaan berat tersebut sukses dibereskan.

“Aduh, Malas…”

Anda bukan malas, Anda hanya takut. Orang yang malas adalah orang yang sepenuhnya tidak peduli akan pekerjaan yang ia hadapi, akan tetapi seorang penunda pekerjaan seringkali adalah sebaliknya. Menurut psikolog asal Rusia Bluma Zeigarnik, orang yang menunda pekerjaannya akan menemukan ‘ketakutan’ dan otak hanya akan berkutat pada bagaimana dan kapan pekerjaan tersebut dimulai. Jika itu terjadi, waktu yang ada semakin menipis.

Hal terbaik yang bisa dilakukan ketika ada rasa takut saat hendak mengerjakan sebuah tugas adalah jangan tahan kreatifitas Anda dalam mengerjakan pekerjaan tersebut. Buang jauh-jauh segala bayangan atau skenario terburuk yang selalu Anda bayangkan bahkan sebelum mengerjakan pekerjaan tersebut. Lakukan pekerjaan tersebut dengan optimistis tanpa merasa takut tidak dapat memenuhi ekspektasi standar kesempurnaan pekerjaan Anda. Namun, Anda juga mesti realistis sehingga Anda akan bisa menerima apapun hasil dari pekerjaan Anda nantinya.

“Membangun Suasana Hati”

Ini merupakan pembenaran yang banyak pekerja aplikasikan dalam kegiatannya sehari-hari. Seringkali, membuat kopi dahulu, mengemil dahulu atau mengecek akun sosial media dahulu digunakan sebagai dalih menunda pekerjaan untuk membangun suasana hati yang kondusif untuk memulai pekerjaan. Ini selaras dengan penelitian yang menemukan bahwa seorang penunda pekerjaan sangat aktif mencari pengalihan perhatian yang tidak berhubungan dengan pekerjaan yang sedang ia hadapi.

Bagikan Sekarang!

Check Also

cara menghadapi pelanggan komplian

Cara Menghadapi Pelanggan Komplain

Siapapun tak ingin mendapatkan pelanggan complain. Setiap pengusaha tentu saja berusaha untuk menghindari keluhan pelanggan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares